Lelaki itu berjalan menuju sebuah halte
Dilihatnya hujan menulis kenangan
arloji rindu menunjuk angka senja
berjalan mencari sisa siang di gelas kopi di dalam rumah mu
tertawa membuang sedih di lantal-lantai yang penuh potongan kain bekas jaitmu inilah senja , dan inilah sosok dunia kita sayang ....
Rintik jendela berjalan keringkuhan, mendayu di atas daun
yang mengering di ranting-ranting jalan.
air menggenang berupa ruh yang menempati hutan bening belantara
tersendat hujan , mengeringkan ngilu surga yang terbakar oleh senja ...
Awan berabu
mengering tertiup angin yang bersembunyi di tali sulur ubi ungu
tali yang memeluk nyawa dan bergelang saraf
menjuntai sepanjang gerai rambutmu
di intai oleh pencuri sajak yang berdiri di genangan airmata
berderai disetiap titik senyum sketsa ..
Sementara mesin jahit yang kau jalankan
yang tak berhasil diselesaikan senja yang menyisakan potongan kain ditubuh puisi
himne kematian hati yang meniru gasing bersama purnama yang menanggalkan sinar kuning sinar kuning gading.
Dilain tempat
puisi sang kakak mulai tumbuh di sela duri-duri kelopak mata yang berwarna lelah
rinduku menggigil dan memerih
sepanjang hujan luruh bersama gerimis yang malang
Akhirnya dingin mengundang senyap
mengering diremuk angin yang mulai terlelap
sementara laba-laba hijau memintal jaring biru yang berubah menjadi kelambu kamarku
dan puisi ini telah lepas di ujung langit bersama daun daun yang tak juga mekar
bunga kamboja membuncah melayarkan sesal dan menggaibkan bayangan berbaju putih yang bersandar di dinding tembok
kecemburuanku tak kunjung usai
padamu yang bersama dengan kemesraan yang menculik aroma harum yang menafasiku
lantas aku mengasingkan dari keriuhan setelah dipinang pelepah hatimu dari genangan paru-paru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar