Minggu, 15 Juni 2014

Ayaaaahhhh.......!!

Dia dipanggil ayah..
Tubuhnya kurus,
tapi senyumnya begitu tulus....
pipinya mulai tirus...
dan jalannya tertatih berusaha tetap dijalan yang lurus...

Dia dipanggil ayah..
rambutnya memutih,
tapi dia tak pernah letih...
meski ku tahu dia ringkih...
karena sesungguhnya bukan orang terlatih...

Dia dipanggil Ayah...
Aku yang memanggilnya,
karena aku mencintainya,
karena darahnya telah mengalir dipembuluh darahku...
kala hentakan jantungku yang pertama..
karena dagingnya telah membungkus belulangku..
kala dentuman jantungku yang pertama...

Dialah ayahku...
Pria tangguh yang tetap teguh...

Rabu, 04 Juni 2014

Mozaik Doa-doa Imam Al-Bushiri

Muhammad bin Sa'id bin Abdullah Al-Shanhaji Al-Bushiri Al Mishri (608 H/1212M- 696 H/1296 M) adalah seorang penyair dengan tutur (gaya) bahasa yang elok dan indah. Nama Al-Bushiri dinisbatkan pada "bushir", salah satu wilayah(kekuasaan) bani Suwaif di Mesir, tempat asal ibunya. Silsilah nasabnya berasal dari maroko, benteng pertahanan hamad, dari sebuah kabilah yang dikenal dengan nama bani Habnun. Ia dilahirkan di Bahsyim, salah satu wilayah Bahnawiyah, dan meninggal di iskandaria. Syairnya yang paling terkenal adalah Al-Burdah(selimut) dengan entry (intro)nya, "Adakah titian tangga dari ingatan para penolong."

Kita kutipkan beberapa bait Syairnya berikut ini.

Kuabdikan diriku pada-Nya
dengan selaksa puji

Mengampun dosa sepanjang usia
lewat syair dan bakti

Kala merapal padaku segala ujung
menggetir duka

Seakan dengan keduanya aku
merengkuh sukacita

Kuturuti sesat kehendak dalam
dua keadaan

hanya dosa dan sesal kudapatkan

betapa kerdil meniaga jiwa

Agama tak 'kan menjelma dunia,
tak pula mendamai
Sungguh keji penjual keabadian
dengan kefanaan

saat menjajakan saat melepaskan

kala datang ketentuan dosa dari Nabi

tak ada pretensiku menentang, tak
pula ikatan

sungguh aku berutang padanya
dengan menyebut

Muhammad, Makhluk paling
sempurna 'tuk disebut

jika ada yang membimbingku
merengkuh surga

pastilah kaki ini terantuk jatuh
menggelepar(dineraka)

jangan biarkan pendamba
kemuliaan terhalang

atau ditinggal penolong tanpa
perhatian

sejak kucurahkan seutuh pikirku
merapal puji

Kutemukan dia teristimewa
selamatkan aku

Tak 'kan sirna kekayaan dari-Nya
menghempas

Kehidupan menumbuh Bunga-bunga
di ujung bukit

Bukan petikan bunga dunia
kuharapkan

Dengan memuja hasrat renta di tangan.

(sumber,doa-doa paling indah untaian katanya,Amil nashif,Bagian 7)

Selasa, 03 Juni 2014

Mozaik Doa-doa Al-Bar'i

Abdurrahim bin Ahmad bin Ali Al-Bar'i Alyamani (m.803 H/1400 M) adalah seorang penyair sufi,berasal dari penduduk "niya-batain" (dua delegasi kepercayaan) di Yaman yang banyak memberi fatwa dan arahan.Nama Al-Bar'i dinisbatkan pada Bura' ,sebuah gunung di Tahamah.ia memiliki kumpulan syair (dîwan) yang sebagian besar berupa puji-pujian kepada nabi.

PADA ANUGERAHMU MELEKAT HARAPKU

Duhai tumpuanku, pada anugerah-Mu
melekat harapku

Kala segenap keluarga dan harta
tak menyata guna

Aku menumpu pada-Mu, karena
kutahu kasih-Mu padaku

Kala manusia menghadang tak
'kan jauh dariku

Luruhkan musuh-musuhku padaku
dan tunaikan utangku

Duhai tumpuanku, betapa berat
beban segenap makhluk

Ampunan dari-Mu padaku tak
'kan terhalang

kala menyata padaku syahadat di
ujung kata dan realita

kala mereka menabir dua mataku
dan pergi menangis

jadikanlah aku mendengar segala
kata dari mereka

Anugerahkanlah daya lapang dan
selasih padaku

Saat sekarat dan represi kematian
menyergap

Malaikat maut datang
menyambangiku

Dan segenap jiwa menanggal usia

Para malaikat suci menjemput jiwa
padanya

Melangkah pergi menuju cita kasih-mu

Dengannya mereka datang
menghadap-Mu, Tuhan

jibril dan mikail menyerahkannya
pada Zat kesucian

Lalu tak lama ia berpaling ke
tempat aku disucikan

Tiadalah untukku dan laksana aku
tanpa Kemurahan-Mu

Duhai Zat yang tak ada laksana serupa
mendekati-Nya

Dihadapan-Mu,kini aku makhluk
terbuang.

Sibuk sendiri untukku abaikan
yang lain.

Duhai sang Pengampun, curahkan
 ampunan dari-Mu padaku
Hingga tak tersisa beban dosa-dosa
dipundakku.

bila telah kusinggahi rumah pusara

tak ada ayah, tak ada paman disana

Duhai Zat Penciptaku, bimbinglah
aku merapal jawaban

Dirumah pusara itulah tanya dan
jawab merapal serta

tak ada harapan menggantung disana,
tak pula amalan

akupun takkan bisa berkilah
harap balasan

maka bukakanlah pintu keridhaan
untuk ruhku menuju Firdaus

Menggiring jiwa-jiwa terkurung
Gelap menuju lapang

Bimbinglah anak-anak dan para ibu
dibelakangku

ketika berjumlah anak
mengikutiku

Hingga kala segenap kematian
ditebar serta

urat-urat leher segala makhluk
bergetar meregang nyawa

Ruh ditubuh tak berdaya pun
pergi,kembali

jejaring perangkat tubuh itupun membau

Maka berilah aku Anugrah serta
kasih ampunan-Mu

betapa dosaku, dan pada
Kehendak-Mu segala karunia

kudamna firman-Mu
"kucukupkan lara dunia-akhirat
Untukmu wahai hamba Sang pengasih"

lalu turunkanlah perlindungan
pada penderitaan.

(sumber,Doa-doa paling indah,Amil Nashif)