Selasa, 23 September 2014

Kau dan Gairahmu yang tak lagi Bisu

Kau melesat tanpa kecepatan...
Dengan sepasang sayap kecil,tepat diatas punggungmu...
Mengejar jutaan kupu-kupu..
Dan mengikuti jejak cahaya kunang-kunang...
Kau selalu bilang,kesendirian adalah hidupku...
Penat adalah sahabatku...
Dan gairah telah lama bungkam..membisu enggan hanya sekedar ucapkan hallo.
Malam demi malam kau telusuri,
Menyapu udara dengan senyap...
Menyelami cuaca dengan pengap...
Dan ketika angin-angin itu berhembus,
Menembus setiap celah..menusuk tepat di jantungku...
Dengan tombak yang kau buat atas nama gairah...
Sel-sel yang telah lama tertidur lelap,
Kini terbangun dengan sumringah...
Menyambut gairahmu yang tak lagi bisu.. 

cerita aaaahhhhhhh



Hari ini tiba-tiba diserang penyakit jenuh,jenuh menjalani rutinitas seperti biasanya,semangat menggebu untuk menyelesaikan satu potong kemeja pun tak kudapatkan,efek cuaca panas dan Angin yang bikin kulit kering (hehe nyalahin Alam,males mah males aja cel)

kata orang,kalo jenuh harus melakukan hal yang baru.Baiklah aku akan mencoba hal-hal baru.
Atau setidaknya melakukan hal-hal yang sudah lama tidak dilakukan,seperti misalnya nonton,ya nonton tv...nonton film,sempat lupa bagaimana caranya menonton sebuah film saking lama nya gak nonton film(lebay gilaa)..
Gak tau film yang lagi hits film apa,film terbaru film apa,emang dasar gak antusias buat nonton tidak seantusias suamiku kalo soal film.Jadilah kemarin aku bongkar kardus yang blm sempat terjamah pasca pindahan,ya...tepat isinya DVD yang film2nya udah kedaluwarsa....diliat satu-satu diinget-inget lagi tuh film rame apa enggak,bikin santai apa malah bikin tegang,kan niat nya mau refresh otak bukan malah bikin otak tegang mikirin tuh film hehe...
Akhirnya,mataku tertuju pada sebuah dvd,bergambar satu keluarga dan berpakaian jaman purba....film apa hayooo.....
Yups...betul,film the croods.Baru liat cover nya aja aku udah senyum,senyum geli :) apa lagi di tonton.
Baiklah mari aku ulas sedikit tentang film ini


Alur cerita

Eep (Emma Stone) adalah seorang remaja perempuan dalam sebuah keluarga manusia gua yang hidup pada pada zaman pra-sejarah. Keluarganya merupakan salah satu dari sedikit yang mampu bertahan hidup, terutama berkat peraturan ketat dan over protektif yang diterapkan ayahnya, Grug (Nicolas Cage). Di dalam gua tempat tinggal mereka, Grug selalu menceritakan sebuah kisah kepada keluarganya, yaitu istrinya Ugga (Catherine Keener), anak perempuannya Sandy, anak lelakinya Thunk (Clark Duke), dan mertuanya Gran (Cloris Leachman). Ia bercerita tentang karakter yang memiliki rasa ingin tahu yang mirip dengan Eep, guna memperingati keluarganya bahwa penjelajahan dan 'hal baru' merupakan ancaman bagi keberlangsungan hidup mereka. Hal ini semakin menyakiti hati Eep yang sudah bosan. Setelah semua anggota keluarga tertidur, Eep pergi meninggalkan gua saat ia melihat cahaya yang bergerak di luar gua. Hal ini tentunya bertentangan dengan nasihat ayahnya.Saat mencari sumber cahaya, ia bertemu dengan Guy (Ryan Reynolds), seorang remaja manusia gua yang cerdik dan berdayacipta. Pada mulanya Eep menyerang Guy karena penampilan anehnya. Namun kemudian ia justru terpesona dengan api yang dibuat oleh Guy. Eep kemudian meminta Guy untuk mengajarinya membuat api. Guy juga memberitahu Eep perihal teori pribadinya bahwa dunia sedang menuju 'akhir' dan meminta Eep agar bergabung untuk bersama-sama menyelamatkan diri, namun Eep menolak ajakan tersebut. Sebelum pergi, Guy memberikan Eep sebuah kerang yang bisa ia tiupkan jika membutuhkan bantuan darinya. Eep kemudian berhasil ditemukan oleh Grug, yang terbangun dan mencari-cari dirinya. Grug pun marah atas tindakan yang dilakukan oleh Eep. Grug akhirnya membawa Eep kembali ke rumah dan langsung bergabung kembali dengan anggota keluarga lainnya. Eep memberitahu mereka tentang pertemuannya dengan Guy dan menunjukkan kerang yang diberikan kepadanya, yang langsung dihancurkan seketika oleh keluarganya yang memiliki ketakutan terhadap 'benda baru'. Kemudian sebuah gempa bumi terjadi, membuat mereka semua lari ke dalam gua, namun tiba-tiba dihalangi oleh Grug sebelum gua tersebut hancur. Mereka pun lari menghindari reruntuhan batu gunung di sekeliling mereka dan secara tidak sengaja mendarat di sebuah daerah yang dipenuhi oleh tumbuhan, jauh berbeda dengan lingkungan mereka sebelumnya. Grug pun memimpin keluarganya memasuki hutan untuk menemukan gua baru.Keluarga ini pun dikejar oleh "Macawnivore" (seekor machairodontbesar berwarna mirip makaw yang kelak dipanggil 'Chunky') dan diserang sekawanan "Piranhakeets" (burung merah, buas nan mematikan sepertipiranha). Panik, Eep membunyikan menemukan sebuah gading yang suaranya mirip dengan kerang yang pernah diberikan oleh Guy. Guy mendengar permintaan tolong ini dan bersegera menuju tempat Eep berada. Sambil berpikir cepat, ia membuat sebuah obor api yang mampu menakuti burung-burung tersebut. Anggota keluaraga Crood yang lain terpesona dengan kehadiran api, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka pun mencuri obor Guy dan, akibat kecerobohan, muncul kebakaran besar disekeliling mereka, yang membuat jagung raksasa terbakar dan terbang ke langit bak sebuah roket, yang kemudian menghasilkan pemandangan layaknya kembang api. Setelah terkesan dengan kecerdikan dan 'ide' Guy, Grug memasukkan Guy ke dalam sebuah batang kayu pohon untuk mengangkutnya , seraya mengusulkan bahwa mereka akan mencari gua di gunung terdekat yang disebutkan oleh Guy. Guy pun dipaksa menunjukkan jalan dan belajar cara hidup keluarga Croods, yang ia anggap aneh.Setelah gagal dalam berburu dengan cara biasa, Guy, kukang "peliharaanya" Belt (Chris Sanders), dan Eep membuat sebuah boneka untuk mengelabui dan menjebak binatang buruan mereka. Setelah berhasil menjerat buruan mereka, keluarga tersebut langsung mengerebungi dan menghabiskan hasil buruan tersebut. Grug kemudian kembali bercerita dengan kisah pematah-semangat miliknya, sesuai dengan kejadian yang mereka alami hari tersebut. Namun, Guy berhasil menandinginya dengan menceritakan kisahnya tentang sebuah surga yang ia sebut "Hari Esok".Keesokan harinya, keluarga tersebut tiba di sebuah jalur yang tanahnya ditutupi oleh batu-batu tajam. Grug, Thunk, dan Gran yang tak beralas kaki, pun tertusuk kesakitan saat mencoba berjalan di atasnya. Guy pun dengan leluasa memperkenalkan mereka salah satu hasil penemuannya yang dinamakan sepatu. Ia pun membuatkan sepatu untuk masing-masing anggota keluarga Croods dari bahan-bahan yang ia bisa temukan di sekitarnya. Hal ini kontan membuat dirinya mulai mendapatkan rasa kagum dan hormat dari anggota keluarga Croods kecuali dari Grug, yang merasa cemburu dan iri dengan kecerdikan Guys. Setelah beberapa ide yang dilontarkan Guy terbukti bisa membantu mereka mengarungi perjalanan dengan lancar, satu persatu anggota keluarga ini pun mulai bisa mendapatkan ide sendiri. Ugga, Gran, dan Sandy mendapatkan ide pertama mereka saat berhasil melewati tanaman karnivora dengan cara bersembunyi dibalik kelopak bunga. Thunk berhasil mengelabui dan kemudian menjadi teman dari seekor anjing-buaya yang ia namai Douglas. Hubungan Eep dan Guy pun semakin akrab, sementara Grug justru tersesat dan tersendat di jurang sampai akhirnya Ugga datang menjemputnya. Keesokan harinya, Grug berusaha memamerkan beberapa idenya agar terlihat secerdik Guy. Namun ide-ide tersebut gagal total dan justru berubah menjadi ajang mempermalukan diri. Setelahnya, mereka pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di gunung. Di sini, Grug tak bisa meyakinkan para anggota keluarganya, yang mulai terbiasa dan senang dengan cara kehidupan yang baru, untuk menjadikan gua yang baru mereka temukan sebagai tempat tinggal. Marah dengan penolakan keluarganya, ia pun menyerang Guy yang ia anggap sebagai biang keladi atas perubahan sikap keluarganya. Bukannya berkelahi, mereka berdua justru terjebak di lautan aspal. Seketika Guy pun bercerita bahwa keluarganya meninggal akibat tenggelam dalam cairan hitam tersebut. Ia juga teringat akan kata-kata terakhir keluarganya yang kemudian memberikan inspirasi terhadap teori "Hari Esok" miliknya. Hati Grug pun luluh dan sontak mengubah pandangannya terhadap Guy. Ia dan Guy pun bekerjasama mengelabui Chunky agar mereka berdua terbebas dari jeratan aspal.Saat mereka sudah hampir tiba di tempat tujuan, terjadi sebuah gempa yang membuat jurang dalam, memisahkan mereka dan tempat tujuan. Setelah hampir putus asa, Grug kemudian memutuskan untuk melempar mereka satu persatu melintasi jurang. Pada saat giliran melempar Eep, Grug berdamai dengan anak perempuannya tersebut dalam pelukan pertama mereka. Grug kemudian melempar Eep ke seberang jurang dan pergi meninggalkan keluarganya. Ia pun masuk dan berlindung di sebuah gua dan berhasil membuat obor pertamanya. Setelah melihat sebuah permukaan batu yang kosong, ia melukis sebuah lukisan gua berukuran besar yang menggambarkan anggota keluarga Croods dan Guy. Ia kemudian melawan Chunky, yang tiba-tiba menyerangnya, hingga obor Grug padam dan membuat panik mereka berdua. Chunky yang ketakutan, akhirnya menjinak di hadapan Grug, yang saat itu mendapatkan ide bagus pertamanya. Menggunakan sebuah rangka rusuk berukuran besar, aspal dan obor, Grug berupaya untuk memanfaatkan Piranhakeets agar mengangkut dirinya, Chunky, Douglas, dan beberapa hewan lainnya agar sampai ke seberang jurang, menghindar dari gempa susulan yang lebih besar.Grug, bersama keluarga dan para binatang, akhirnya tiba di sebuah lingkungan yang amat indah dan menakjubkan. Grug pun kemudian mengendurkan sikap protektifnya dengan memperbolehkan keluarganya untuk bertualang dan berani mengambil resiko, yang akhirnya membawa kebahagaiaan bagi mereka semua.

sssttttt.....alur cerita itu aku dapat copas dari wikipedia loh....
aku gak pintar menjabarkan sebuah cerita. :D
daaan bosan pun hilang,rasa suntuk tergantikan oleh rasa senang setelah menonton film ini,

dan film ini mengingatkanku pada ayah,bukaaan bukan karena ayah mirip Grug,tapi sosok ayah selalu melindungi putrinya,termasuk ayahku kepadaku..seperti grug kepada eep juga..


Senin, 22 September 2014

untaian kata

Bungkam sedikit bicara
Cerita menepis segala gundah
Mmmm sepi waktu
Berlari memacu menjuntai tanpa asa
Menggenggam kedua tangan meremas kuat.
Mengarang.menghembus napas...dan
Katapun usai...
Air kehidupan entah...
Kapan berujap berulang lagi.
Sampai angan tiba jua.

tidak diberi judul

Lelaki itu berjalan menuju sebuah halte
Dilihatnya hujan menulis kenangan
arloji rindu menunjuk angka senja
berjalan mencari sisa siang di gelas kopi di dalam rumah mu
tertawa membuang sedih di lantal-lantai yang penuh potongan kain bekas jaitmu inilah senja , dan inilah sosok dunia kita sayang ....
Rintik jendela berjalan keringkuhan, mendayu di atas daun
yang mengering di ranting-ranting jalan.
air menggenang berupa ruh yang menempati hutan bening belantara
tersendat hujan , mengeringkan ngilu surga yang terbakar oleh senja ...
Awan berabu
mengering tertiup angin yang bersembunyi di tali sulur ubi ungu
tali yang memeluk nyawa dan bergelang saraf
menjuntai sepanjang gerai rambutmu
di intai oleh pencuri sajak yang berdiri di genangan airmata
berderai disetiap titik senyum sketsa ..
Sementara mesin jahit yang kau jalankan
yang tak berhasil diselesaikan senja yang menyisakan potongan kain ditubuh puisi
himne kematian hati yang meniru gasing bersama purnama yang menanggalkan sinar kuning sinar kuning gading.
Dilain tempat
puisi sang kakak mulai tumbuh di sela duri-duri kelopak mata yang berwarna lelah
rinduku menggigil dan memerih
sepanjang hujan luruh bersama gerimis yang malang
Akhirnya dingin mengundang senyap
mengering diremuk angin yang mulai terlelap
sementara laba-laba hijau memintal jaring biru yang berubah menjadi kelambu kamarku
dan puisi ini telah lepas di ujung langit bersama daun daun yang tak juga mekar
bunga kamboja membuncah melayarkan sesal dan menggaibkan bayangan berbaju putih yang bersandar di dinding tembok
kecemburuanku tak kunjung usai
padamu yang bersama dengan kemesraan yang menculik aroma harum yang menafasiku
lantas aku mengasingkan dari keriuhan setelah dipinang pelepah hatimu dari genangan paru-paru.

Kamis, 18 September 2014

Short Story, CERMIN

CERMIN

Dia berdiri terpaku, menyaksikan bayangannya sendiri, lalu membuka sebuah cepuk berisi sesuatu yang padat dan penuh warna, tangannya yang ceking dan berurat menggenggam kuas kecil dan mulai mengayunkan kuasnya lalu menyapukan kuas itu diatas pipinya yang dicekungkan.
Rambut kecil seperti ulat ia tempelkan di atas kelopak matanya,tepat di tempat bulu matanya yang pendek dan kasar,dan benda itu adalah bulu mata sintetis yang dengan mudah bisa didapat di toko-toko kosmetik.Matanya mengerling genit,kini sandy sudah tidak tampan lagi,karena menjelma menjadi sandy yang cantik dan menor.
Sandy membuka laci lemari,mengambil hairclip sepanjang 60 cm berwarna hitam kebiruan,memasangnya dengan cekatan pada rambutnya,ia kembali mengerling,kembali melihat cermin yang memantulkan sosok cantiknya.

Menyambar korek api,lalu menyulut sebatang rokok yang dikepit mulut monyongnya,gincu yang semerah darah menempel di ujung filter rokok,lalu sandy kembali melirik tajam cermin seolah menghakimi dirinya yang sedang menghirup rokok dalam-dalam.

Kembali ia melanjutkan aktivitasnya,menyemprotkan minyak wangi di setiap jengkal tubuhnya,termasuk di kedua ketiaknya,ketiak yang licin nyaris tanpa bulu.
sepasang stoking memeluk erat kaki sandy,mulai dari telapak,hingga nyaris ke pangkal paha.
Sandy kembali mengerling,melirik bayangannya yang kian menarik..
diraihnya stoking yang lain,dipintal lalu disumpalkan ke dadanya,Sempurna,Sandy semakin cantik dengan dada membusung.
sentuhan akhir ia mengalungkan aksesoris manik beraneka warna di lehernya,memasangkan sepasang anting-anting yang senada dengan kalung.
Sandy kembali mengerling,melihat dirinya sendiri di cermin,merasa bangga akan kecantikan yang terpancar.
Sandy maraih clutch bag hitamnya,lalu mengempitnya,tangan satu nya dengan cekatan memasangkan stilleto hitam di kedua kakinya,
Lagi-lagi sandy mengerling,melihat keseluruhan dirinya di cermin.Bibirnya mengembang,tersenyum puas...
tak ada sisa-sisa kejantanan yang terpancar dalam tubuhnya,Sandy telah berubah sepenuhnya menjadi sandy yang cantik.
Sandy menyiapkan tali tambang di atas ranjang,sebuah kursi plastik dan beberapa lembar surat.
Sandy menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan gumpalan asap putih beraroma khas tembakau.
Sandy kembali mengerling,melihat pantulan dirinya untuk yang kesekian kali,pipinya bersemu merah,terpancar kebahagiaan dari dalam dirinya.Lalu sandy mulai beraksi,menjelajah malam melawan hawa dingin dengan busana hitam legam.
menjajakan diri entah kepada siapa,
menjual entah apa yang dijual,
Sandy paling cantik diantara puluhan waria lainnya...Sandy adalah primadona dari malam ke malam.
Pantulan suara seirama terdengar merdu,pantulan suara stilleto yang beradu dengan aspal adalah sumber suara itu,suara yang terdengar ketika Sandy berjalan lenggak-lenggok bak bidadari di acara pemilihan ratu sejagat.Tapi dia hanya Sandy,sandy yang cantik.
Dingin perlahan mencekik,Sandy gelisah..bukan karena kali ini belum mendapat satu pelanggan pun.
tapi karena sandy merasa malam ini adalah malam terakhirnya.
Dengan tangan kurusnya ia salami beberapa temannya,bahkan musuh bebuyutannyapun ia salami,
Ia hampiri warung kopi yang biasa dijadikan pangkalan,diberinya beberapa lembar rupiah,"bayar hutang" ujarnya.
mang Anto hanya senyum sumringah,dibalas dengan senyuman sandy yang hampa,lalu dia melihat cermin,dan mulai mengamati gambar dirinya,yang tetap terlihat cantik.Sandy yang cantik.

Keesokan malamnya,sandy absen menjajakan diri di tempat biasa...

besok malamnya lagi,sandy masih tak terlihat di manapun.....

keesokan harinya,pemilik kontrakan histeris melihat sandy tergantung dengan leher terikat tali tambang tepat di atas tempat tidurnya yang lapuk.

Sandy harus dimakamkan malam-malam
seakan tak lagi ada esok hari bagi si mati
seakan tak lagi ada esok bagi keluarga yang ditinggalkan
Pemakaman jadi benderang
seperti pada malam dengan tong setan
tak ada tawa , hanya suara lirih
dan tangis yang ditahan
Pemakaman jadi benderang
seperti sepakat mengantar sandy menghilangkan tubuh
lalu mengekalkan kenangan
disetiap teras
sebelum kopi tersaji dan rokok tersulut..
Sandy telah dimakamkan malam-malam
seakan tak perlu waktu untuk menanggung duka
seakan tak ada kematian diruang tamu beranda dan gang..

Rabu, 17 September 2014

Senin,25 Juli 2011

Aku tak pernah bermimpi berjalan beriringan dengan sosok yang terbujur kaku..
Berada bersisian dengan jasadmu yang kosong dan diiringi jeritan sirine mobil jenazah..
Aku ingat janjiku,akan menggosok punggungmu dengan air hangat..
Inilah janjimu kupenuhi..
Tidak hanya punggung,tetapi seluruh tubuhmu..
Bahkan rambutmu yang enggan memutih pun tak luput dari sapuanku.
Dengan air yang sedingin embun puncak gunung..
Dengan sabun yang sewangi mawar di pagi setelah hujan..
Airnya bercampur dengan air muka ku,dengan tangis yang tertahan..
Tidak hanya aku,tetapi mereka turut serta disampingmu,membasuhmu dari dosa.
Aku tak pernah bermimpi,tidur diantara diammu,
Diatas permadani yang sejak lama kau nantikan,
Diantara dingin malam yang hanya menyentuh kulitku..
Aku hanya diam diantara tangis mereka,
Menyesali semangkuk sayur asam yang belum sempat ku buat untukmu..
Malam itu rasanya lambat sekali..
Aku gelisah dalam tidurku..
Karena ku yakin,saat itu kau disisiku,
Kembali menceritakan kisah-kisah yang selalu ku dengar selama 23 tahun hidupku..
Dan aku tertidur dalam buaianmu..

Saatnya tiba,kicau burung menggelitik telingaku,
Sinar mentari mengusap lelehan air mataku..
Dan aku menggenggam sekantong bunga,mengantarmu dengan dongeng yang selalu kau ceritakan itu..

Air mata mewakiliku mengucapkan selamat tinggal untukmu..
Air mata mewakiliku mengucapkan aku mencintaimu..
Air mata mewakiliku mengucapkan beribu maaf untukmu..

Selamat jalan..
Untukmu yang selalu memanjakanku.

Selasa, 16 September 2014

Cerita tentang Sebuah Nama

Kemarin pm ku di bb isinya alamat blog ini,kontan beberapa teman meluncur ke sini?melihat-lihat blog yang gak ada apa-apanya ini..
lalu dengan bangga mereka bilang "hei saya udah liat blog mu" ..saya hanya bisa senyum mesem-mesem karena malu.
dan beberapa diantara mereka memiliki pertanyaan yang memang patut dijelaskan...
kenapa namanya Argeline She..kenapa bukan Sheila aja sesuai dengan nama lahirku..atau Acel sesuai dengan namaku sehari-hari..
Baiklah akan ku jabarkan disini...mengapa aku memilih nama Argeline She?
Aku menemukan nama ini 10 tahun yang lalu,ketika aku harus menyajikan suguhan penting berisi surat service hati untuk ketiga sahabatku..Ketika aku memakai nama ini,seketika kemampuan menulisku bertambah menjadi 50% yang tadinya cuma 0%.lumayan bisa menceritakan sesuatu dalam surat itu ketika menjadi seorang Argeline She,seperti sekarang ini,memakai nama ini aku bisa mengekspresikan diri lewat beberapa puisi dan tulisan lain.Walau sejujurnya sama sekali gak ada apa-apanya.
Darimana nemu nama ini?
Entahlah...mungkin nemu dari tumpukan koran bekas,atau gunungan sampah di TPA :D yang pasti aku suka nama ini...
aku bisa menulis ketika memakai nama ini..
mungkin Aku memiliki altar ego bernama Argeline she ini.hihi yang ini jangan dipercaya,
aku sendiri,tidak berkepribadian ganda memiliki altar ego bernama argeline She...hanya sedang senang dan terlalu senang dengan nama itu.
So,kawan apa masih penasaran dengan nama itu?

Rabu, 10 September 2014

Antara Siang dan Malam

Kita ada banyak saatnya mengikuti arah,
arah yang semestinya kita sadari,
saling menepis rindu awal ...

Lalu kau bercerita tentang jodoh,
Bahwa jodoh tidak pernah berpihak kepada kita...
Apa mungkin aku terlalu bodoh?
Aahh....aku terlalu lelah,untuk sekedar berkeluh kesah.
Dan..
masih ingatkah akan waktu?
siang dan malam.
Mungkin diantara kita dilahirkan tak sama,
kau adalah siang,
sedang aku adalah malam,sebab siang dan malam tak pernah bersatu tak menyatu.
itulah kita ....

Saat aku bersuka cita dengan taburan bintang,
Tapi kau tengah asyik berkelakar dengan panas matahari...
Saat aku nyaman di pelukan bulan,
Kau bahagia di buaian matahari....
Sudah ku ulurkan tangan menyambutmu,
Tapi kau memilih berlari,menjauh,menyusur pematang bersama kicau burung sore-sore...

Disaat kata-kata terlelap sepanjang jalan trotoar malam,
hanya spanduk yang mungkin menyala,
itupun memantulkan cahaya lampu yang menerangi,
Hanya makna yang bersujud dalam puisiku,
Tuhan...
kabulkanlah aku bersatu dengan nya lagi walau hanya dalam angan
ku sadar diri , akulah malam..
Disaat angka angka hari bertanggalan,
mengelupas waktu dengan kesia siaan usia,
hanya pada lembaran buku yang pasrah.

Siang... jalan kita selalu beriringan
walau ku tau kita tak mungkin bersatu,aku sayang kamu...

Short Story

Pengantin Angin
Perempuan itu, maryam, istri yang baru kunikahi selama 90hari hilang. Hilang tanpa bekas, tanpa secarik pun catatan diatas kertas , tanpa surat , pun pesan-pesan tersirat. Ia hanya hilang. Nyaris seperti ditelan angin. Hilang begitu saja..

Jika tak ingat bahwa Maryam ini bisu dan tuli , mungkin aku akan beranggapan bahwa ia pergi melarikan diri bersama laki laki lain atau tiba-tiba tergoda menjadi TKI ke Saudi.Maryam tidak memiliki sanak saudara. Didunia ini, akulah satu satunya kerabat yang ia punya. Memangnya ia mau pergi kemana ?
 Dini hari sebelum aku mendapatinya tak disisiku lagi, Maryam memang tidur diranjang yang sama denganku, memeluk punggung dengan jemarinya yang kian hari kian pasi. Napasnya terasa hangat ditengkuk, menciptakan harmoni yang setiap malam begitu kukenali. Napas tidur yang gelisah, terengah engah, ntah apa yang sedang di impikannya . Kemudian di pagi harinya , kesunyian menikam nikam . Napas gelisah itu tak ada lagi ketika kubalikan badan, pun wajar tidur Maryam sempurna lekang .
Tadinya kupikir mungkin ia sedang berada di dapur, menanak nasi untuk sarapan dan membuatkan secangkir kopi. Barangkali ia tengah berada dikamar mandi, mencuci setumpuk pakaian bekas pakai kemaren. Atau ia sedang berada dihalaman , menyapu luluhan daun jambu dipekarangan sambil sesekali tersenyum-senyum pada anak sekolah yang selalu berteriak-teriak "torek-torek" didepan pagar rumah kami.Maryam , karena tak dapat mendengar , seringkali salah sangka bahwa anak-anak itu sedang mengucapkan selamat pagi atau sampai jumpa lagi.
Aku bangkit menuju dapur, kamar mandi , pintu depan. Tak ada Maryam , tak ada siapa-siapa. Pintu depan bahkan terkunci dari dalam, juga tiga buah jendela yang berjejer disampingnya. Maryam bukan hantu , jadi tak mungkin ia pergi menembus dinding. Aku mulai gelisah lalu segera keluar , mencari cari di rumah tetangga dan bertanya kepada siapa saja orang yang lewat dihalaman. Tak ada yang melihatnya , tak ada yang merasakan kehadirannya. Bahkan anak-anak yang sering mengejeknya hanya menggeleng geleng heran ketika nama Maryam kusebutkan seolah nama itu begitu asing.Maryam hilang begitu saja. Tanpa jejak , tanpa bekas ....
Dengan sedikit canggung karena tak pernah lagi berurusan dengan dapur sejak berbulan-bulan yang lalu, aku mamanasi air, menyeduh kopi dan termenung diberanda. Sendirian. Aku menolak pergi bekerja setelah menelepon atasanku dan memberi alasan bahwa istriku hilang, yang disambut kekehan. Bedebah! Kenapa pula atasanku itu malah ketawa justru ketika aku sedang dilanda bencana?
"Mungkin istrimu di culik genderewo, sep. Coba cari di pohon-pohon terdekat."ucap atasanku. Atasanku itu tak pernah bertemu dengan istriku, juga tak hadir di hari pernikahanku.aku tak dapat membedakan apakan ia sedang berkelakar atau serius dengan ucapannya. Yang jelas , aku ingin sekali merobek mulutnya.
Aku kembali ke dalam kamar , berniat mengganti pakaian lalu pergi ke kantor polisi. Setidaknya polisi tak mungkin mengatakan kalau isteriku hilang diculik genderewo, bukan? Namun saat aku ingin membuka lemari pakaian, mataku tertuju pada bingkai poto di dinding, poto pernikahan kami. Ada yang aneh di poto itu, ternyata hanya ada aku seorang yang duduk di pelaminan, tanganku terangkat di udara seperti tengah memeluk seseorang, memeluk kekosongan. Segera saja aku berlari keruang tamu, merenggut album poto dibawah meja . Dengn tangan bergetar kubuka satu persatu poto disana. Ditempat seharusnya ada wajah dan tubuh Maryam seluruhnya kosong. Foto-fotoku jadi serupa dengan pemain pantomim yang sedang memeluk seseorang dipangkuan, atau menyuapi mulut seseorang.
  Tubuhku menggigil.

SETELAH laporan selesai di ketik, dicetak, polisi berjanji akan mengusut kasus ini dan akan datang ke rumahku untuk melakukan investigasi. Aku mengangguk, segera pergi dari kantor polisi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan dengan aparat -aparat ini.
 Dengan perasaan sunyi, aku memulai menyusuri jalan demi jalan, trotoar demi trotoar mencari di pusat pembelanjaan , pasar-pasar, terminal, stasiun bahkan ketempat pelacuran. Aku tak berharap menemukan Maryam di salah satu sudut dan menjajakan tubuh, tentu saja. Aku hanya membunuh rasa penasaran.
 Selembar poto yang tadi kuselipkan di dalam dompet kubuka,ku amati dengan perasaan sedih. Foto pernikahan kami, foto tampa wajah Maryam, hanya ada wajahku sendiri. Sambil berselonjor diatas trotoar dan mengisap rokok kretek dalam dalam, kelelahan setelah mencari seharian , foto pernikahan masih kupegang erat, menatap kekosongan disana dengan teramat lekat . Mataku menyapu orang-orang yang berlalu lalang. Ada pasangan yang tengah bergandengan, ada yang berjalan bersisian, ada juga yang saling memeluk seakan mereka adalah kembar siam. Ini malam minggu, malam obral kemesraan. Sialan, aku semakin teringat Maryam, sedang apakah ia sekarang? Aku tak pernah mengajaknya jalan-jalan, tak penah mengajaknya makan diluar .
Gerimis mulai merangkak, aku berjingkat, menjejalkan foto kesaku belakang celana dan beranjak dari trotoar. Sebetulnya aku nggan kembali kerumah dan menghadapi kesunyian. Kukeluarkan telepon genggam, menelepon Ramdan, sahabatku sewaktu SMU. Ingin sekedar membagi kecemasan , syukur-syukur dia mau membantu.
 "Istriku hilang,"ucapku getas sesaat setelah Ramdan mengucapkan 'hallo'
"Istrimu yang mana?"tanya ramdan diseberang sana.
"Maryam! Istriku yang mana lagi? "
"Shep, aku tau di usiamu yang sudah diatas 30thn itu kau slalu jomblo, tapi jangan membuatku khawatir. Tolonglah..."ada rasa sesal, juga kesal disuara Ramdan.
"Maryam hilang, Dan. Yang harus kau khawatirkan adalah dia, bukan aku! " aku bersungut-sungut.
"Istrimu yang mana? Siapa itu Maryam ??" Ramdan mulai berteriak.
"Istriku yang kunikahi 3bln lalu. Jangan bercanda, Dan. Kau kan datang dihari pernikahanku itu. Aku masih ingat kau menghadiahi kami satu set cangkir dari keramik," ingin sekali kupukul kepala Ramdan dengan apa saja agar ia tak hilang ingatan . Kalau saja ia ada dihadapanku. Ramdan mendengus , "kita tak pernah bertemu sejak sebelas tahun yang lalu, Shep."
"Tapi aku tau nomor ponselmu" aku protes
"Tentu saja, kita pernah saling bertukar nomor ponsel seminggu yang lalu di facebook. Ingat ?" Sepertinya Ramdan betul-betul kesal.
"Tapi kau hadir dihari pernikahanku. Kau ada disana tiga bulan yg lalu. Aku tak mungkin lupa, tak mungkin salah mengenali orang. Aku menikah dengan Maryam, Ramdan! Dan sekarang ia hilang" aku mulai histeris , menjambaki rambut,tertunduk di tepi jalan raya.
"Datanglah kemari, sep. Mungkin malal minggu ini kau butuh di hibur," akhirnya Ramdan tertawa. Ia menutup telepon.

Aku kembali disergap kesepian , dan kesendirian. Maryam, dimana aku harus mencarimu? Hujan sempurna berderai, membasuh tubuhku hingga nyaris kuyup. Tak ada kabar dari polisi, tak ada yang menghubungi. Menghubungi ramdan tak memberikan solusi, malah semakin membuatku frustasi. Kembali kuleluarkan foto dari dalam saku celana , wajah maryam belum lagi genap. Hanya gelap, hanya gelap.
Tiba tiba aku begitu merindukan rumah.begitu merindukan napas tidurnya yang gelisah . Merindukan lirikan tajamnya ketika aku salah menyimpan pakaian kotor, aku merindukan dia ... Maryam .... istriku. Namun, aku enggan kembali karena pasti akan mendapati dini hari yang sunyi tanpa napas gelisah Maryam .
Namun, maski ramdan menolak mengingat telah menghadiri pernilahan kami, masih saja tertanam pemakluman bahwa aku sudah beristri. Tak mungkin aku lupa kalau sudah beristri, bukan? Laki laki bajingan macam apa yang lupa akan keberadaan istrinya?
Kuremas poto pernikahan ditangan, mencoba mencari jawaban dari kegelisahan. Tepat saat larik cahaya lampu mercury menyoroti ditengah tetesan air hujan, ternyata ada tulisan dibalik poto itu. Aku berlari , berteduh dibawah tingkap kios pedagang rokok ditepi jalan, takut tinta dibalik foto itu akan berangkat pudar .
Tulisan tangan , berderet rapi. Tulisan tangan yang kukenali sebagai tulisan Maryam.
"Aku tidak tuli, kau hanya selalu lupa untuk bercerita sehingga lambat laun telingaku menolak untuk bekerja. Aku juga tidak bisu , kau hanya selalu lupa untuk mengajaku berbicara sehingga mulutku juga menolak untuk bekerja.
Sudah lama kau menganggapku sebagai benda, sesuatu yang kadang ada, lebih sering tiada. Kang, mungkin hidupmu akan lebih tenang kalo aku benar benar hilang"

Maryam, ...aku tertunduk lunglai diatas kubangan. Ingin sekali kucacah malam, mencacah kesunyian yang serentak datang. Maryam hilang .

Penulis:Shep D'Dharmadi
Editor : Argeline She

Cemburu

Memangnya apa cemburu itu?
Apakah sama dengan segelintir perasaan yang serupa buka bermekaran?
Atau serupa buncahan rasa,penuh gelora diantara duka dan lara?
Akulah malam yang karam perlahan ....
bagi pecemburu yang habis jadi sejarah .....
dan bintang akhir malam .....
melangkah ke muram kamar masa sepi . ..
sepanjang pucuk pucuk cemburu yang bisu dan penuh ratap .
Lamat-lamat aku dengar suaramu dikejauan..
Ada gairah tertahan,diujung tenggorokanmu...
Sinar matamu,raut muka mu,muram dan sedihmu....
Ku lahap sendiri...
Sebagai bukti nyata penghiburanku.
untuk mu yang selalu di tikam sepi....
Tak perlu lagi nama pecemburu ...
ditengah rumah dan kamar sepi ...
yang terus menjarah ruang dan menyuarakan malam jumat ...
bagi aku yang kini terlalu jauh ....
akan kucium keningmu yang seindah mawar
dan angin letih yang agung
Betapa gelap isyarat burung-burung diangkasa ...
tentang aku pecemburu ...
bagi dunia yang hendak memejamkan mata ...
dengan gemuruh yang tak pernah lelap ...
suara malam jumat ...
dari sepi kamar dan hati yang lelah ditikam sinar cemburu ...
Lalu,ketika angin berdesir serumpun bunga bergerak memutar,
Seperti bola matamu,yang indah dan terlalu bening...
Aku hanyalah keruh dimatamu,
Aku hanyalah duri di hidupmu...
Lantas aku tanya sekali lagi...
Apa itu cemburu?


(Ditulis oleh Argeline She dan Shep D'Dharmady)