Pengantin Angin
Perempuan itu, maryam, istri yang baru kunikahi selama 90hari hilang. Hilang tanpa bekas, tanpa secarik pun catatan diatas kertas , tanpa surat , pun pesan-pesan tersirat. Ia hanya hilang. Nyaris seperti ditelan angin. Hilang begitu saja..
Jika tak ingat bahwa Maryam ini bisu dan tuli , mungkin aku akan beranggapan bahwa ia pergi melarikan diri bersama laki laki lain atau tiba-tiba tergoda menjadi TKI ke Saudi.Maryam tidak memiliki sanak saudara. Didunia ini, akulah satu satunya kerabat yang ia punya. Memangnya ia mau pergi kemana ?
Dini hari sebelum aku mendapatinya tak disisiku lagi, Maryam memang tidur diranjang yang sama denganku, memeluk punggung dengan jemarinya yang kian hari kian pasi. Napasnya terasa hangat ditengkuk, menciptakan harmoni yang setiap malam begitu kukenali. Napas tidur yang gelisah, terengah engah, ntah apa yang sedang di impikannya . Kemudian di pagi harinya , kesunyian menikam nikam . Napas gelisah itu tak ada lagi ketika kubalikan badan, pun wajar tidur Maryam sempurna lekang .
Tadinya kupikir mungkin ia sedang berada di dapur, menanak nasi untuk sarapan dan membuatkan secangkir kopi. Barangkali ia tengah berada dikamar mandi, mencuci setumpuk pakaian bekas pakai kemaren. Atau ia sedang berada dihalaman , menyapu luluhan daun jambu dipekarangan sambil sesekali tersenyum-senyum pada anak sekolah yang selalu berteriak-teriak "torek-torek" didepan pagar rumah kami.Maryam , karena tak dapat mendengar , seringkali salah sangka bahwa anak-anak itu sedang mengucapkan selamat pagi atau sampai jumpa lagi.
Aku bangkit menuju dapur, kamar mandi , pintu depan. Tak ada Maryam , tak ada siapa-siapa. Pintu depan bahkan terkunci dari dalam, juga tiga buah jendela yang berjejer disampingnya. Maryam bukan hantu , jadi tak mungkin ia pergi menembus dinding. Aku mulai gelisah lalu segera keluar , mencari cari di rumah tetangga dan bertanya kepada siapa saja orang yang lewat dihalaman. Tak ada yang melihatnya , tak ada yang merasakan kehadirannya. Bahkan anak-anak yang sering mengejeknya hanya menggeleng geleng heran ketika nama Maryam kusebutkan seolah nama itu begitu asing.Maryam hilang begitu saja. Tanpa jejak , tanpa bekas ....
Dengan sedikit canggung karena tak pernah lagi berurusan dengan dapur sejak berbulan-bulan yang lalu, aku mamanasi air, menyeduh kopi dan termenung diberanda. Sendirian. Aku menolak pergi bekerja setelah menelepon atasanku dan memberi alasan bahwa istriku hilang, yang disambut kekehan. Bedebah! Kenapa pula atasanku itu malah ketawa justru ketika aku sedang dilanda bencana?
"Mungkin istrimu di culik genderewo, sep. Coba cari di pohon-pohon terdekat."ucap atasanku. Atasanku itu tak pernah bertemu dengan istriku, juga tak hadir di hari pernikahanku.aku tak dapat membedakan apakan ia sedang berkelakar atau serius dengan ucapannya. Yang jelas , aku ingin sekali merobek mulutnya.
Aku kembali ke dalam kamar , berniat mengganti pakaian lalu pergi ke kantor polisi. Setidaknya polisi tak mungkin mengatakan kalau isteriku hilang diculik genderewo, bukan? Namun saat aku ingin membuka lemari pakaian, mataku tertuju pada bingkai poto di dinding, poto pernikahan kami. Ada yang aneh di poto itu, ternyata hanya ada aku seorang yang duduk di pelaminan, tanganku terangkat di udara seperti tengah memeluk seseorang, memeluk kekosongan. Segera saja aku berlari keruang tamu, merenggut album poto dibawah meja . Dengn tangan bergetar kubuka satu persatu poto disana. Ditempat seharusnya ada wajah dan tubuh Maryam seluruhnya kosong. Foto-fotoku jadi serupa dengan pemain pantomim yang sedang memeluk seseorang dipangkuan, atau menyuapi mulut seseorang.
Tubuhku menggigil.
SETELAH laporan selesai di ketik, dicetak, polisi berjanji akan mengusut kasus ini dan akan datang ke rumahku untuk melakukan investigasi. Aku mengangguk, segera pergi dari kantor polisi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan dengan aparat -aparat ini.
Dengan perasaan sunyi, aku memulai menyusuri jalan demi jalan, trotoar demi trotoar mencari di pusat pembelanjaan , pasar-pasar, terminal, stasiun bahkan ketempat pelacuran. Aku tak berharap menemukan Maryam di salah satu sudut dan menjajakan tubuh, tentu saja. Aku hanya membunuh rasa penasaran.
Selembar poto yang tadi kuselipkan di dalam dompet kubuka,ku amati dengan perasaan sedih. Foto pernikahan kami, foto tampa wajah Maryam, hanya ada wajahku sendiri. Sambil berselonjor diatas trotoar dan mengisap rokok kretek dalam dalam, kelelahan setelah mencari seharian , foto pernikahan masih kupegang erat, menatap kekosongan disana dengan teramat lekat . Mataku menyapu orang-orang yang berlalu lalang. Ada pasangan yang tengah bergandengan, ada yang berjalan bersisian, ada juga yang saling memeluk seakan mereka adalah kembar siam. Ini malam minggu, malam obral kemesraan. Sialan, aku semakin teringat Maryam, sedang apakah ia sekarang? Aku tak pernah mengajaknya jalan-jalan, tak penah mengajaknya makan diluar .
Gerimis mulai merangkak, aku berjingkat, menjejalkan foto kesaku belakang celana dan beranjak dari trotoar. Sebetulnya aku nggan kembali kerumah dan menghadapi kesunyian. Kukeluarkan telepon genggam, menelepon Ramdan, sahabatku sewaktu SMU. Ingin sekedar membagi kecemasan , syukur-syukur dia mau membantu.
"Istriku hilang,"ucapku getas sesaat setelah Ramdan mengucapkan 'hallo'
"Istrimu yang mana?"tanya ramdan diseberang sana.
"Maryam! Istriku yang mana lagi? "
"Shep, aku tau di usiamu yang sudah diatas 30thn itu kau slalu jomblo, tapi jangan membuatku khawatir. Tolonglah..."ada rasa sesal, juga kesal disuara Ramdan.
"Maryam hilang, Dan. Yang harus kau khawatirkan adalah dia, bukan aku! " aku bersungut-sungut.
"Istrimu yang mana? Siapa itu Maryam ??" Ramdan mulai berteriak.
"Istriku yang kunikahi 3bln lalu. Jangan bercanda, Dan. Kau kan datang dihari pernikahanku itu. Aku masih ingat kau menghadiahi kami satu set cangkir dari keramik," ingin sekali kupukul kepala Ramdan dengan apa saja agar ia tak hilang ingatan . Kalau saja ia ada dihadapanku. Ramdan mendengus , "kita tak pernah bertemu sejak sebelas tahun yang lalu, Shep."
"Tapi aku tau nomor ponselmu" aku protes
"Tentu saja, kita pernah saling bertukar nomor ponsel seminggu yang lalu di facebook. Ingat ?" Sepertinya Ramdan betul-betul kesal.
"Tapi kau hadir dihari pernikahanku. Kau ada disana tiga bulan yg lalu. Aku tak mungkin lupa, tak mungkin salah mengenali orang. Aku menikah dengan Maryam, Ramdan! Dan sekarang ia hilang" aku mulai histeris , menjambaki rambut,tertunduk di tepi jalan raya.
"Datanglah kemari, sep. Mungkin malal minggu ini kau butuh di hibur," akhirnya Ramdan tertawa. Ia menutup telepon.
Aku kembali disergap kesepian , dan kesendirian. Maryam, dimana aku harus mencarimu? Hujan sempurna berderai, membasuh tubuhku hingga nyaris kuyup. Tak ada kabar dari polisi, tak ada yang menghubungi. Menghubungi ramdan tak memberikan solusi, malah semakin membuatku frustasi. Kembali kuleluarkan foto dari dalam saku celana , wajah maryam belum lagi genap. Hanya gelap, hanya gelap.
Tiba tiba aku begitu merindukan rumah.begitu merindukan napas tidurnya yang gelisah . Merindukan lirikan tajamnya ketika aku salah menyimpan pakaian kotor, aku merindukan dia ... Maryam .... istriku. Namun, aku enggan kembali karena pasti akan mendapati dini hari yang sunyi tanpa napas gelisah Maryam .
Namun, maski ramdan menolak mengingat telah menghadiri pernilahan kami, masih saja tertanam pemakluman bahwa aku sudah beristri. Tak mungkin aku lupa kalau sudah beristri, bukan? Laki laki bajingan macam apa yang lupa akan keberadaan istrinya?
Kuremas poto pernikahan ditangan, mencoba mencari jawaban dari kegelisahan. Tepat saat larik cahaya lampu mercury menyoroti ditengah tetesan air hujan, ternyata ada tulisan dibalik poto itu. Aku berlari , berteduh dibawah tingkap kios pedagang rokok ditepi jalan, takut tinta dibalik foto itu akan berangkat pudar .
Tulisan tangan , berderet rapi. Tulisan tangan yang kukenali sebagai tulisan Maryam.
"Aku tidak tuli, kau hanya selalu lupa untuk bercerita sehingga lambat laun telingaku menolak untuk bekerja. Aku juga tidak bisu , kau hanya selalu lupa untuk mengajaku berbicara sehingga mulutku juga menolak untuk bekerja.
Sudah lama kau menganggapku sebagai benda, sesuatu yang kadang ada, lebih sering tiada. Kang, mungkin hidupmu akan lebih tenang kalo aku benar benar hilang"
Maryam, ...aku tertunduk lunglai diatas kubangan. Ingin sekali kucacah malam, mencacah kesunyian yang serentak datang. Maryam hilang .
Penulis:Shep D'Dharmadi
Editor : Argeline She
Tidak ada komentar:
Posting Komentar