Aku tak pernah bermimpi berjalan beriringan dengan sosok yang terbujur kaku..
Berada bersisian dengan jasadmu yang kosong dan diiringi jeritan sirine mobil jenazah..
Aku ingat janjiku,akan menggosok punggungmu dengan air hangat..
Inilah janjimu kupenuhi..
Tidak hanya punggung,tetapi seluruh tubuhmu..
Bahkan rambutmu yang enggan memutih pun tak luput dari sapuanku.
Dengan air yang sedingin embun puncak gunung..
Dengan sabun yang sewangi mawar di pagi setelah hujan..
Airnya bercampur dengan air muka ku,dengan tangis yang tertahan..
Tidak hanya aku,tetapi mereka turut serta disampingmu,membasuhmu dari dosa.
Aku tak pernah bermimpi,tidur diantara diammu,
Diatas permadani yang sejak lama kau nantikan,
Diantara dingin malam yang hanya menyentuh kulitku..
Aku hanya diam diantara tangis mereka,
Menyesali semangkuk sayur asam yang belum sempat ku buat untukmu..
Malam itu rasanya lambat sekali..
Aku gelisah dalam tidurku..
Karena ku yakin,saat itu kau disisiku,
Kembali menceritakan kisah-kisah yang selalu ku dengar selama 23 tahun hidupku..
Dan aku tertidur dalam buaianmu..
Saatnya tiba,kicau burung menggelitik telingaku,
Sinar mentari mengusap lelehan air mataku..
Dan aku menggenggam sekantong bunga,mengantarmu dengan dongeng yang selalu kau ceritakan itu..
Air mata mewakiliku mengucapkan selamat tinggal untukmu..
Air mata mewakiliku mengucapkan aku mencintaimu..
Air mata mewakiliku mengucapkan beribu maaf untukmu..
Selamat jalan..
Untukmu yang selalu memanjakanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar