Oleh : Sheila Munggah
Ku poles bibirku dengan gincu merah,
warnanya serupa jambu yang ranum, dress biru kesayanganku melekat sempurna di
badanku. Cantik.
"Arya datang, Arya datang!" teriakan
Monik lantas menghentikan kegiatanku mengagumi diri sendiri di depan cermin.
Namanya Arya Setiawan, Pria Jawa yang
menjadi tambatan hati ku selama 4 bulan ini, dia berdiri di ambang pintu,
senyumnya merekah semanis kembang gula di pekan raya. Rambutnya yang lebat, tampak
rapi dan kelimis disisir ke arah samping. Dia tampak begitu gagah tatkala
menyerahkan setangkai mawar merah kepadaku. Dia sempurna.
"Sudah siap San?" tanya Mas Arya
lembut, pipiku merona saat ku anggukkan kepalaku dan Mas Arya mengulurkan
tangannya meraih jemariku, menggenggamnya erat.
"Kami pergi ya Mon," pamit mas
Arya pada monik, teman satu kost ku.
"jaga rumah baik-baik."
lanjutnya, Monik mengangguk dan antarkan kami hingga pintu depan.
Lelaki dewasa ini, benar-benar membuatku
jatuh cinta berkali-kali, diperlakukannya aku seperti seorang ratu di
kerajaannya. Lemah lembut, penuh kasih dan sayang. Aku mencintainya seperti aku
mencintai dan menyanjung ibuku, aku menghormatinya seperti aku menghormati
bapakku. Karena itu lah malam ini, adalah malam terakhir aku bersamanya. Aku
harus mengakhirinya, sebelum rasa ini jauh lebih dalam menyeretku ke dasar kesengsaraan.
"Mas, ada yang ingin aku ," kata
ku, sambil menyantap makan malam romantis kami, Mas Arya mengangguk dan
tersenyum.
"Simpan dulu, apa yang akan Mas
sampaikan jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini," jawabnya antusias
"Tapi Mas.." belum sempat aku
lanjutkan, mas Arya menempelkan jari telunjuknya di atas bibirku hingga
terkatup
"Sandy Amalia kekasihku, malam ini,
tepat di bawah terangnya purnama, izinkan aku, Arya Setiawan untuk meminangmu,
menikahlah denganku, jadilah ratu di kerajaanku, jadilah setetes air di
kehidupanku yang gersang," mas Arya menyodorkan sebuah kotak beludru,
didalamnya berkilauan sebuah cincin bertahtakan berlian. Hatiku perih tak
terperi, rasanya seperti ada ribuan duri yang menancap di sana.
"Mas, jika aku terlahir kembali, aku
ingin menjadi Sandy Amalia yang kau sanjung dan kau jadikan Ratu. Tapi aku
tidak bisa mas, Aku mencintaimu seperti aku mencintai ibuku, aku menghormatimu
seperti aku menghormati bapakku. Maafkan aku, dan inilah yang hendak ku
sampaikan malam ini, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita, ini sebuah
kesalahan, dan cinta kita terbatas." aku berdiri, mengusap punggungnya
sejenak lalu ku bisikkan sejuta maaf tepat di telinganya.
Maafkan aku Cinta, yang melenggang pergi
seperti prajurit yang kalah perang, kan ku bawa cinta tulusmu, kan kusimpan
rapi tepat di sudut hati terdalamku.
Aku berjalan pelan, meninggalkan mas Arya
yang pucat mematung di sudut restoran.
Jika aku terlahir kembali, aku ingin
menjadi Sandy Amalia dan menikah denganmu, bukan menjadi Sandi Prayoga yang
memilih pergi, dan berkubang di lautan dosa.
(Di tulis saat mengikuti 30 days writing challenge session 4 yang diselenggarakan oleh Infinity Lovink)