Kamis, 18 Januari 2018

CINTA KAMI TERBATAS

Oleh : Sheila Munggah

Ku poles bibirku dengan gincu merah, warnanya serupa jambu yang ranum, dress biru kesayanganku melekat sempurna di badanku. Cantik.
"Arya datang, Arya datang!" teriakan Monik lantas menghentikan kegiatanku mengagumi diri sendiri di depan cermin.
Namanya Arya Setiawan, Pria Jawa yang menjadi tambatan hati ku selama 4 bulan ini, dia berdiri di ambang pintu, senyumnya merekah semanis kembang gula di pekan raya. Rambutnya yang lebat, tampak rapi dan kelimis disisir ke arah samping. Dia tampak begitu gagah tatkala menyerahkan setangkai mawar merah kepadaku. Dia sempurna.
"Sudah siap San?" tanya Mas Arya lembut, pipiku merona saat ku anggukkan kepalaku dan Mas Arya mengulurkan tangannya meraih jemariku, menggenggamnya erat.
"Kami pergi ya Mon," pamit mas Arya pada monik, teman satu kost ku.
"jaga rumah baik-baik." lanjutnya, Monik mengangguk dan antarkan kami hingga pintu depan.
Lelaki dewasa ini, benar-benar membuatku jatuh cinta berkali-kali, diperlakukannya aku seperti seorang ratu di kerajaannya. Lemah lembut, penuh kasih dan sayang. Aku mencintainya seperti aku mencintai dan menyanjung ibuku, aku menghormatinya seperti aku menghormati bapakku. Karena itu lah malam ini, adalah malam terakhir aku bersamanya. Aku harus mengakhirinya, sebelum rasa ini jauh lebih dalam menyeretku ke dasar kesengsaraan.
"Mas, ada yang ingin aku ," kata ku, sambil menyantap makan malam romantis kami, Mas Arya mengangguk dan tersenyum.
"Simpan dulu, apa yang akan Mas sampaikan jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini," jawabnya antusias
"Tapi Mas.." belum sempat aku lanjutkan, mas Arya menempelkan jari telunjuknya di atas bibirku hingga terkatup
"Sandy Amalia kekasihku, malam ini, tepat di bawah terangnya purnama, izinkan aku, Arya Setiawan untuk meminangmu, menikahlah denganku, jadilah ratu di kerajaanku, jadilah setetes air di kehidupanku yang gersang," mas Arya menyodorkan sebuah kotak beludru, didalamnya berkilauan sebuah cincin bertahtakan berlian. Hatiku perih tak terperi, rasanya seperti ada ribuan duri yang menancap di sana.
"Mas, jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi Sandy Amalia yang kau sanjung dan kau jadikan Ratu. Tapi aku tidak bisa mas, Aku mencintaimu seperti aku mencintai ibuku, aku menghormatimu seperti aku menghormati bapakku. Maafkan aku, dan inilah yang hendak ku sampaikan malam ini, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita, ini sebuah kesalahan, dan cinta kita terbatas." aku berdiri, mengusap punggungnya sejenak lalu ku bisikkan sejuta maaf tepat di telinganya.
Maafkan aku Cinta, yang melenggang pergi seperti prajurit yang kalah perang, kan ku bawa cinta tulusmu, kan kusimpan rapi tepat di sudut hati terdalamku.
Aku berjalan pelan, meninggalkan mas Arya yang pucat mematung di sudut restoran.
Jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi Sandy Amalia dan menikah denganmu, bukan menjadi Sandi Prayoga yang memilih pergi, dan berkubang di lautan dosa.


(Di tulis saat mengikuti 30 days writing challenge session 4 yang diselenggarakan oleh Infinity Lovink)






DOA UNTUK PUTRAKU

Nak, pernahkah kau rasakan hangatnya matahari saat pagi?
Hangatnya lebih dari itu saat ku rengkuh kau dalam peluk
Nak, pernahkah kau hitung buih di lautan?
Jumlahnya lebih dari itu saat kucurahkan cinta kasihku
Padamu, hanya kepadamu
Saat sukmaku mengumbar suka cita itu karena hadirmu
Aku sudah terlanjur mencintaimu, saat dua garis merah menghipnoptis mataku
Cinta itu bertambah saat mendengar detak jantungmu
Dan semakin bertambah ketika kali pertama ku dengar tangismu.

Pagi ini,
ku bacakan doa-doa
Ku sampaikan pada semesta
Berilah seribu kebaikan dalam kehidupan di tempat yang fana ini
Untukmu,
kuatkanlah kaki-kaki kecil itu, untuk berlarian menapaki taklukkan aral dan rintang
Kemudian aku bersimpuh, memohon dan meminta
Agar jiwa dan Ragamu senantiasa sehat dan sentausa.

Garut, 24 September 2017

SheilaMu