Bu,
Hari ini dengan penuh sesal aku sampaikan maafku,
sangka ku,hanya berita dari burung yang lewat di pelataran rumahku..
Entah bu...
Peka ku sebagai wanita tiba-tiba lenyap,
Burung itu terlalu merdu,menyanyikan lantunan syahdu,
Membawakan getaran-getaran pilu,
Semua tentangmu Bu,
Aku tak pernah tahu ,tak pernah melihat,tak pernah mendengar....
Bahkan mengenalmu aku tidak...
Lalu aku telan,aku telan,dan aku telan...
Cerita tentang dera dan nestapa...tentangmu..
Bu,
Tiba-tiba burung itu menghilang...
Dan tiba-tiba,aku merindukan kicauannya...
Aku rela menunggunya,untuk kembali mendengar,selaksa cerita-cerita tentangmu.....
Bu...hari ini aku menangis,tangisku terdengar hingga ke ujung gurun yang hampa...
Aku bertemu dengan burung yang lain,
Suaranya tidak merdu...
Tapi kicauannya sama...itu tentangmu....
Tak ada nestapa yang dia bawa..
Ada jutaan kilau cahaya yang berasal dari matamu,
Ada aroma yang menguar dari tubuhmu...bak kesturi dari ujung negri,
Kau secantik bidadari surga....
Bu,kemarin aku terlalu lupa,
Burung itu membelokkan hatiku...
Dan aku terlalu goyah..
Mengubur naluriku...
Menutup mata dan telingaku..
Terimalah maafku Bu,
Tulus dari dasar hatiku...takkan pudar oleh tersapu angin dan ombak....
Hanya sedang ingin berimajinasi, tanpa berhalusinasi. Inilah aku, inilah rasaku.
Jumat, 29 Agustus 2014
Selasa, 26 Agustus 2014
short story
Cemburu Pada Hantu
Sekarang seperti itu,mas heru lebih suka mengurung diri dikamarnya,bukan,bukan kamar kita berdua,tapi hanya kamarnya sendiri,dengan dia..
setiap hari,mas heru menyiapkan kain sutra berwarna hitam di sebuah dipan yang ia jadikan alas tidur,aku tidak melihatnya langsung tetapi mengintip dari celah bilik yang lobangnya agak besar.Keesokan harinya mataku menjadi sakit,merah dan bintitan.
Mas heru bilang jangan suka mengintip,itulah akibatnya.
Dulu,mas heru adalah suami yang romantis,dia penyayang,perhatian dan pengertian.Tak boleh melihat istrinya mengaduh,tak bisa melihat istrinya banjir keringat,tapi saat itu kami sangat kekurangan.makan pun sehari hanya satu kali,itupun satu bungkus nasi rames kami makan berdua.Aku yang lebih banyak makan saat itu,karena harus menyusui si kecil Alif yang baru berusia 8 bulan.
Setiap hari,mas heru mendorong gerobaknya,aku di belakangnya mengikuti dengan tertatih...tanpa alas kaki kedua tanganku menenteng 2 kantong keresek yang berisi abu gosok,sedangkan sikecil alif menempel di punggung mas Heru dan terlelap,badannya di sangga sinjang batik yang kumal,dan rapuh robek disana sini.
"Bu...bade lebuu..."mulutku tak pernah bosan meneriakkan kata-kata itu,kata yang seakan menjadi mantra agar ASI ku keluar memancar seperti tanah yang di bor dengan kedalaman 20 meter jauhnya.
Dan tak berapa lama,sekantong demi sekantong Abu gosok ini berpindah tangan..banyak orang yang masih setia kepada si buruk rupa yang mampu membuat wajan tidak buruk lupa lagi..
tapi tak sedikit orang yang mencibir,mereka lebih memilih cairan pembersih yang lebih modern,yang produknya banyak berseliweran di iklan-iklan.
Duhh...betisku mulai pegal,si alif mulai rewel,dan mas heru mulai putus asa..hari ini kami hanya dapat uang 14 ribu rupiah,dipotong uang keresek,lalu sisa potongan uang keresek itu pun harus dibagi dua dengan pemilik los(tempat membuat batu bata),penghasilan kami hari ini hanya 6 ribu rupiah,
sebungkus nasi rames dengan harga 4 ribu kami makan berdua,si alif kami belikan pisang ambon yang dikerok terlebih dahulu.
pedih memang sisa uang hanya seribu rupiah,perjalanan menuju gubuk kami masih sangat jauh.
aku hampir putus asa.kelelahan.
Tapi mas heru tau,kesahku saat itu,dia mengalah,menumpuk sisa abu gosok,menyediakan ruang untukku dan alif duduk,sedangkan dia mendorong tak kenal lelah.Sebagai gantinya,dirumah aku akan merendam kakinya dengan air hangat yang di bubuhi garam,menyeka gurat-gurat lelah yang terpahat di telapak kaki kokohnya.
suatu hari ketika baru saja mendapat uang 2 ribu rupiah,hujan turun tanpa ampun,petirnya membuat alif menjerit takut,dan kami panik.
buru-buru mencari tempat teduh untuk menyelamatkan abu gosok kami.celaka jika abu-abu itu basah,selain tidak makan kami mungkin akan kena ocehan-ocehan pemilik los yang mulutnya berbau busuk itu.
Aku menggigil,gigiku gemerutuk dasterku yang tipis menempel di badan,Mas heru tidak tahan melihatku lantas dia memelukku buah hati kami berada diantara dinginnya cuaca dan hangatnya cinta kasih orang tuanya.
"ekhemm..."Deheman seorang lelaki mengagetkan kami,sontak aku dan suamiku menoleh kearahnya,kakek itu tersenyum dan meminta kami masuk berteduh di pondoknya.
Alif,terlihat ketakutan,waktu itu usianya sudah satu tahun,tapi dia kurus tidak seperti anak-anak seusianya dan belum dapat berjalan.
"dek alif jangan takut.."ucap kakek itu sambil tersenyum penuh kharisma..
"bapak tahu dari mana anak saya bernama Alif?" tanya suamiku..
"dari Nini"jawabnya mantap..
aku dan mas heru saling pandang,kakek menceritakan bahwa nini adalah istrinya dari bangsa jin.Dia yang menyuruh Kakek membawa kami masuk,Nini suka sama Alif,dia kepingin punya putra lelaki selucu Alif.
Saya yang ketakutan mendekap erat alif.Tangan kekar mas heru melindungi kami dengan begitu protektif.
Kakek menyuruh kami tenang,mereka tidak hendak berbuat jahat,mereka hanya mau pinjam alif barang sebentar saja..hanya satu malam.
Entah dari mana asalnya,tiba-tiba ditangan kakek sudah ada sepotong kue apem hangat,Alif yang memang kelaparan berontak dari pangkuanku,hendak menerima pemberian kakek.Aku takut,tapi Alif belum makan,dan ia kedinginan.Akhirnya naluriku sebagai ibu,lebih membiarkan Alif menerima kue itu.Alif makan dengan lahap.
Sihir apa aku tak tahu,malam itu alif ditinggalkan dirumah sang kakek,permintaan si Nini kami kabulkan.
keesokan harinya,kami bergegas..tak ada abu gosok yang kami jual hari itu,aku ingin segera bertemu alif.
ketika sampai,alif menyambut kami,dia sudah bisa berjalan.Dan aku menangis,bukan karena dia sudah bisa berjalan,tapi karena dia kembali ke pangkuan kami.
Aku enggan masuk kedalam,dengan dalih menemani Alif main aku lebih memilih duduk di luar,melihat alif yang sedang bermain yang entah dengan siapa,aku tak melihatnya.
Mas heru keluar dari pondok,diikuti kakek yang sumringah.
Kami akhirnya pulang.
sepanjang jalan,mas heru lebih banyak diam,dia hanya menggelengkan kepala ketika ku tanya mengapa.
hingga akhirnya,dirumah mas Heru menceritakan bahwa sang kakek meminangnya,dia ingin menikahkan mas heru dengan Nyai,anak si kakek dengan si Nini yang bangsa jin itu,dan nyai adalah bangsa jin sama seperti ibunya.
Kontan aku tertawa..aku tidak cemburu,malah menganggap ini lelucon.
tapi mas heru meyakinkanku,dia mengeluarkan sebuah kotak berisi emas,perhiasan emas.
mataku terbelalak,jangankan perhiasan emas segitu banyak,sepasang anting pun tidak aku punya.
Mas heru akan menikahi Nyai malam ini.Tepat di malam jumat kliwon.Mas heru ingin aku dan alif berubah hidupnya.bisa tinggal dirumah yang memang layak ditinggali.bisa makan setidaknya kami makan tidak sebungkus berdua lagi.Atau alif tidak seperti burung yang setiap hari memakan pisang ambon atau pepaya.
setelah menikah,Nyai yang akan menafkahi kami.memberi kami rumah yang layak,makanan dan uang.
Inilah Awal bencana bagiku..
mas Heru yang tadinya romantis kini dingin..
mas Heru hanya memberiku nafkah lahir saja,Rumah motor,bahkan mobil kini aku punyai..
alif kini tumbuh sehat,dan aku seperti toko emas berjalan..
Mas heru lebih senang bersenggama dengan Nyai.
dia lebih betah dikamar nyai..
Pernah suatu ketika,mas heru mengumpat seusai bercinta denganku,dia bilang punyaku tidak selegit punya nyai..dan aku sedih.
aku ingin mas yg dulu,yang rela berjalan puluhan kilometer dan mendorong gerobak yang didalamnya ada aku dan alif,
aku merindukan pelukan mas saat dingin,saat sakit,saat kami berdua di timpa kesusahan.
"Nyai,kembalikan mas ku..Aku merindukannya.Maka akan ku kembalikan mas mu kepadamu,aku tidak perlu perhiasan emas dan uang banyak,aku hanya ingin mas heru,dan hangatnya cinta kami meski kami hanya mendorong gerobak berisi abu gosok.
Sekarang seperti itu,mas heru lebih suka mengurung diri dikamarnya,bukan,bukan kamar kita berdua,tapi hanya kamarnya sendiri,dengan dia..
setiap hari,mas heru menyiapkan kain sutra berwarna hitam di sebuah dipan yang ia jadikan alas tidur,aku tidak melihatnya langsung tetapi mengintip dari celah bilik yang lobangnya agak besar.Keesokan harinya mataku menjadi sakit,merah dan bintitan.
Mas heru bilang jangan suka mengintip,itulah akibatnya.
Dulu,mas heru adalah suami yang romantis,dia penyayang,perhatian dan pengertian.Tak boleh melihat istrinya mengaduh,tak bisa melihat istrinya banjir keringat,tapi saat itu kami sangat kekurangan.makan pun sehari hanya satu kali,itupun satu bungkus nasi rames kami makan berdua.Aku yang lebih banyak makan saat itu,karena harus menyusui si kecil Alif yang baru berusia 8 bulan.
Setiap hari,mas heru mendorong gerobaknya,aku di belakangnya mengikuti dengan tertatih...tanpa alas kaki kedua tanganku menenteng 2 kantong keresek yang berisi abu gosok,sedangkan sikecil alif menempel di punggung mas Heru dan terlelap,badannya di sangga sinjang batik yang kumal,dan rapuh robek disana sini.
"Bu...bade lebuu..."mulutku tak pernah bosan meneriakkan kata-kata itu,kata yang seakan menjadi mantra agar ASI ku keluar memancar seperti tanah yang di bor dengan kedalaman 20 meter jauhnya.
Dan tak berapa lama,sekantong demi sekantong Abu gosok ini berpindah tangan..banyak orang yang masih setia kepada si buruk rupa yang mampu membuat wajan tidak buruk lupa lagi..
tapi tak sedikit orang yang mencibir,mereka lebih memilih cairan pembersih yang lebih modern,yang produknya banyak berseliweran di iklan-iklan.
Duhh...betisku mulai pegal,si alif mulai rewel,dan mas heru mulai putus asa..hari ini kami hanya dapat uang 14 ribu rupiah,dipotong uang keresek,lalu sisa potongan uang keresek itu pun harus dibagi dua dengan pemilik los(tempat membuat batu bata),penghasilan kami hari ini hanya 6 ribu rupiah,
sebungkus nasi rames dengan harga 4 ribu kami makan berdua,si alif kami belikan pisang ambon yang dikerok terlebih dahulu.
pedih memang sisa uang hanya seribu rupiah,perjalanan menuju gubuk kami masih sangat jauh.
aku hampir putus asa.kelelahan.
Tapi mas heru tau,kesahku saat itu,dia mengalah,menumpuk sisa abu gosok,menyediakan ruang untukku dan alif duduk,sedangkan dia mendorong tak kenal lelah.Sebagai gantinya,dirumah aku akan merendam kakinya dengan air hangat yang di bubuhi garam,menyeka gurat-gurat lelah yang terpahat di telapak kaki kokohnya.
suatu hari ketika baru saja mendapat uang 2 ribu rupiah,hujan turun tanpa ampun,petirnya membuat alif menjerit takut,dan kami panik.
buru-buru mencari tempat teduh untuk menyelamatkan abu gosok kami.celaka jika abu-abu itu basah,selain tidak makan kami mungkin akan kena ocehan-ocehan pemilik los yang mulutnya berbau busuk itu.
Aku menggigil,gigiku gemerutuk dasterku yang tipis menempel di badan,Mas heru tidak tahan melihatku lantas dia memelukku buah hati kami berada diantara dinginnya cuaca dan hangatnya cinta kasih orang tuanya.
"ekhemm..."Deheman seorang lelaki mengagetkan kami,sontak aku dan suamiku menoleh kearahnya,kakek itu tersenyum dan meminta kami masuk berteduh di pondoknya.
Alif,terlihat ketakutan,waktu itu usianya sudah satu tahun,tapi dia kurus tidak seperti anak-anak seusianya dan belum dapat berjalan.
"dek alif jangan takut.."ucap kakek itu sambil tersenyum penuh kharisma..
"bapak tahu dari mana anak saya bernama Alif?" tanya suamiku..
"dari Nini"jawabnya mantap..
aku dan mas heru saling pandang,kakek menceritakan bahwa nini adalah istrinya dari bangsa jin.Dia yang menyuruh Kakek membawa kami masuk,Nini suka sama Alif,dia kepingin punya putra lelaki selucu Alif.
Saya yang ketakutan mendekap erat alif.Tangan kekar mas heru melindungi kami dengan begitu protektif.
Kakek menyuruh kami tenang,mereka tidak hendak berbuat jahat,mereka hanya mau pinjam alif barang sebentar saja..hanya satu malam.
Entah dari mana asalnya,tiba-tiba ditangan kakek sudah ada sepotong kue apem hangat,Alif yang memang kelaparan berontak dari pangkuanku,hendak menerima pemberian kakek.Aku takut,tapi Alif belum makan,dan ia kedinginan.Akhirnya naluriku sebagai ibu,lebih membiarkan Alif menerima kue itu.Alif makan dengan lahap.
Sihir apa aku tak tahu,malam itu alif ditinggalkan dirumah sang kakek,permintaan si Nini kami kabulkan.
keesokan harinya,kami bergegas..tak ada abu gosok yang kami jual hari itu,aku ingin segera bertemu alif.
ketika sampai,alif menyambut kami,dia sudah bisa berjalan.Dan aku menangis,bukan karena dia sudah bisa berjalan,tapi karena dia kembali ke pangkuan kami.
Aku enggan masuk kedalam,dengan dalih menemani Alif main aku lebih memilih duduk di luar,melihat alif yang sedang bermain yang entah dengan siapa,aku tak melihatnya.
Mas heru keluar dari pondok,diikuti kakek yang sumringah.
Kami akhirnya pulang.
sepanjang jalan,mas heru lebih banyak diam,dia hanya menggelengkan kepala ketika ku tanya mengapa.
hingga akhirnya,dirumah mas Heru menceritakan bahwa sang kakek meminangnya,dia ingin menikahkan mas heru dengan Nyai,anak si kakek dengan si Nini yang bangsa jin itu,dan nyai adalah bangsa jin sama seperti ibunya.
Kontan aku tertawa..aku tidak cemburu,malah menganggap ini lelucon.
tapi mas heru meyakinkanku,dia mengeluarkan sebuah kotak berisi emas,perhiasan emas.
mataku terbelalak,jangankan perhiasan emas segitu banyak,sepasang anting pun tidak aku punya.
Mas heru akan menikahi Nyai malam ini.Tepat di malam jumat kliwon.Mas heru ingin aku dan alif berubah hidupnya.bisa tinggal dirumah yang memang layak ditinggali.bisa makan setidaknya kami makan tidak sebungkus berdua lagi.Atau alif tidak seperti burung yang setiap hari memakan pisang ambon atau pepaya.
setelah menikah,Nyai yang akan menafkahi kami.memberi kami rumah yang layak,makanan dan uang.
Inilah Awal bencana bagiku..
mas Heru yang tadinya romantis kini dingin..
mas Heru hanya memberiku nafkah lahir saja,Rumah motor,bahkan mobil kini aku punyai..
alif kini tumbuh sehat,dan aku seperti toko emas berjalan..
Mas heru lebih senang bersenggama dengan Nyai.
dia lebih betah dikamar nyai..
Pernah suatu ketika,mas heru mengumpat seusai bercinta denganku,dia bilang punyaku tidak selegit punya nyai..dan aku sedih.
aku ingin mas yg dulu,yang rela berjalan puluhan kilometer dan mendorong gerobak yang didalamnya ada aku dan alif,
aku merindukan pelukan mas saat dingin,saat sakit,saat kami berdua di timpa kesusahan.
"Nyai,kembalikan mas ku..Aku merindukannya.Maka akan ku kembalikan mas mu kepadamu,aku tidak perlu perhiasan emas dan uang banyak,aku hanya ingin mas heru,dan hangatnya cinta kami meski kami hanya mendorong gerobak berisi abu gosok.
Harapan Gadis Bisu
Tahu kah kau...
kemarin hujan membacakan beberapa cerita
yang sebetulnya ia curi dari angin
angin mengantarkan beberapa harapan gadis bisu itu..
Gadis itu menari
meliukkan tubuh gemulainya,dan bernyanyi dalam hati,
Dia terus meliuk-liuk bagaikan ular tanpa bisa
rambutnya seperti panji yang terpasang di tiang paling tinggi.
Tiba-tiba hujan seperti sebuah tangisan
yang cengeng,merengek,dan tersedu sedan.
Angin dengan angkuh bersiul
membentuk pusaran kemarahan
Gadis itu hanya ingin mengucapkan satu kata..kau tahu??apa yang selalu ingin dia ucapkan?
Tanya saja pada angin,biarkan ia menceritakan kisah yang sempat dicuri oleh hujan.
Ditulis oleh argeline she
kemarin hujan membacakan beberapa cerita
yang sebetulnya ia curi dari angin
angin mengantarkan beberapa harapan gadis bisu itu..
Gadis itu menari
meliukkan tubuh gemulainya,dan bernyanyi dalam hati,
Dia terus meliuk-liuk bagaikan ular tanpa bisa
rambutnya seperti panji yang terpasang di tiang paling tinggi.
Tiba-tiba hujan seperti sebuah tangisan
yang cengeng,merengek,dan tersedu sedan.
Angin dengan angkuh bersiul
membentuk pusaran kemarahan
Gadis itu hanya ingin mengucapkan satu kata..kau tahu??apa yang selalu ingin dia ucapkan?
Tanya saja pada angin,biarkan ia menceritakan kisah yang sempat dicuri oleh hujan.
Ditulis oleh argeline she
Jumat, 08 Agustus 2014
Catatan Bersampul Abu
pagi ini mataku menangkap sesuatu..
kentara jelas dari ujung hingga tepi,
betapa engkau singkap tirai awan putih dariku,
dan kau kucurkan segumpal awan keruh tepat dihadapanku.
sebabnya apa aku tak ingin tahu,
karena sungguh,rasa ingin tahu hanya akan membunuhku perlahan..
aku belum ingin mati,
sebelum melihat sisi lain dari wujudmu..
wujud yang sempat tersungkur ke lembah kenistaan,
dan menyambangi tepian bara
tanpa sedikit pengampunan.
pada akhirnya kau tetap bertandang,
membawa daftar permintaan yang telah ku ajukan,
dalam sebuah buku yang berisi catatan,
kau ungkapkan segenap perasaan.
berisi kemarahan,dan sejumput kerinduan.
kau adalah lelaki yang selalu ku caci,
tetapi aku adalah wanita yang selalu kau kasihi,
tanpa sedikit benci,
hanya aku katamu,
dan kata-kata telah memaksaku,
menelan rasa tentang kita.
pada akhirnya catatan itu hanya pedoman,
sebuah aturan yang memang hanya aturan..
aku tak mau diatur oleh catatan,
yang tersampul berwarna abu.
jangan lagi kau bubuhi satu kata pun,
kecuali tintanya adalah darah lukamu.
kentara jelas dari ujung hingga tepi,
betapa engkau singkap tirai awan putih dariku,
dan kau kucurkan segumpal awan keruh tepat dihadapanku.
sebabnya apa aku tak ingin tahu,
karena sungguh,rasa ingin tahu hanya akan membunuhku perlahan..
aku belum ingin mati,
sebelum melihat sisi lain dari wujudmu..
wujud yang sempat tersungkur ke lembah kenistaan,
dan menyambangi tepian bara
tanpa sedikit pengampunan.
pada akhirnya kau tetap bertandang,
membawa daftar permintaan yang telah ku ajukan,
dalam sebuah buku yang berisi catatan,
kau ungkapkan segenap perasaan.
berisi kemarahan,dan sejumput kerinduan.
kau adalah lelaki yang selalu ku caci,
tetapi aku adalah wanita yang selalu kau kasihi,
tanpa sedikit benci,
hanya aku katamu,
dan kata-kata telah memaksaku,
menelan rasa tentang kita.
pada akhirnya catatan itu hanya pedoman,
sebuah aturan yang memang hanya aturan..
aku tak mau diatur oleh catatan,
yang tersampul berwarna abu.
jangan lagi kau bubuhi satu kata pun,
kecuali tintanya adalah darah lukamu.
Kamis, 07 Agustus 2014
Tentang Jarak
Jika pada akhirnya puisi ini sampai padamu
ingin kutegaskan bahwa kata-kata menempuh perjalanan jauh
tahun tahun debu menghapus semua rambu
susah nian membedakan rumpun bambu dan pinggul babu
segalanya benar benar debu
apa yang selama ini kusebut arah
itu adalah jarak
Tapi pada akhirnya,
untaian kata ini memang harus ada padamu..
dibungkus rapi dengan perisai Rindu,
yang entah,kau bisa membacanya atau hanya menyimpannya
lautan debu itu hanyalah cara,
cara jarak menyampaikan jutaan pesan,
pesan tentang sesuatu,dan sesuatu itu selalu disebut Rindu.
Percayalah, kata kata itu
telah berjalan jauh sebelum sampai padamu
dinegeriku seluruh jalan tersumbat suara-suara
seperti tagihan-tagihan,
yang kerap membuatku tak bisa kemana mana,
tapi ini lebih bising dari tagihan
bahkan dari desing,
hingga kupikir ini adalah rahim desing
entah apa yang akan terlahir
Jarak melahirkan sekutu,
bersiaplah kau berakhir pilu.
kecuali jika kau menjadi tahu,
bahwa kata-kata ini telah lelah mengadu,
dan kepada masa lalu kau hanya bisa bertumpu..
tak ada cumbu dan rayu
yang tersisa hanya wajah-wajah yang layu,
sendu.
kini puisi ini sudah sampai padamu...
berisi catatan lirih,
tentang dia yang tak bisa berjalan lurus..
Air matanya keperakan tertimpa cahaya bulan,
tapi luka nya terpendam jauh dilubuk terdalam.
Langkahnya terseok memutar,
pesona nya memudar..
Dan yang sampai pada mu,
biarlah ia tidur sejenak,
terbaring di sisimu
peluklah lembut,biarlah lelap
ia sedang menyusun kekuatan
untuk menumpahkan gairah
ia akan memberondongmu
dengan tembakan-tembakan kegilaan sebuah negeri
Biarlah ia tidur sejenak, tataplah aku disana.....
Dan kata kata yang sampai padamu itu,
jauh sebelum menhadi peluru,
ia adalah bunga kuncup dijantungku,
biarlah ia tidur sejenak , tatap la aku sejenak ....
(ditulis oleh shep D'Dharmadi dan Argeline she)
ingin kutegaskan bahwa kata-kata menempuh perjalanan jauh
tahun tahun debu menghapus semua rambu
susah nian membedakan rumpun bambu dan pinggul babu
segalanya benar benar debu
apa yang selama ini kusebut arah
itu adalah jarak
Tapi pada akhirnya,
untaian kata ini memang harus ada padamu..
dibungkus rapi dengan perisai Rindu,
yang entah,kau bisa membacanya atau hanya menyimpannya
lautan debu itu hanyalah cara,
cara jarak menyampaikan jutaan pesan,
pesan tentang sesuatu,dan sesuatu itu selalu disebut Rindu.
Percayalah, kata kata itu
telah berjalan jauh sebelum sampai padamu
dinegeriku seluruh jalan tersumbat suara-suara
seperti tagihan-tagihan,
yang kerap membuatku tak bisa kemana mana,
tapi ini lebih bising dari tagihan
bahkan dari desing,
hingga kupikir ini adalah rahim desing
entah apa yang akan terlahir
Jarak melahirkan sekutu,
bersiaplah kau berakhir pilu.
kecuali jika kau menjadi tahu,
bahwa kata-kata ini telah lelah mengadu,
dan kepada masa lalu kau hanya bisa bertumpu..
tak ada cumbu dan rayu
yang tersisa hanya wajah-wajah yang layu,
sendu.
kini puisi ini sudah sampai padamu...
berisi catatan lirih,
tentang dia yang tak bisa berjalan lurus..
Air matanya keperakan tertimpa cahaya bulan,
tapi luka nya terpendam jauh dilubuk terdalam.
Langkahnya terseok memutar,
pesona nya memudar..
Dan yang sampai pada mu,
biarlah ia tidur sejenak,
terbaring di sisimu
peluklah lembut,biarlah lelap
ia sedang menyusun kekuatan
untuk menumpahkan gairah
ia akan memberondongmu
dengan tembakan-tembakan kegilaan sebuah negeri
Biarlah ia tidur sejenak, tataplah aku disana.....
Dan kata kata yang sampai padamu itu,
jauh sebelum menhadi peluru,
ia adalah bunga kuncup dijantungku,
biarlah ia tidur sejenak , tatap la aku sejenak ....
(ditulis oleh shep D'Dharmadi dan Argeline she)
Jumat, 01 Agustus 2014
satu lagi :)
Begini , akan aku ceritakan lagi kepadamu
tentang pesisir,tentang debur ombak, karang serta pasir ..
Kau tau , di detik detik yang rawan seperti ini
tak ada lagi yang lebih aku sukai
selain melihat kerlip lampu lampu perahu dikejauhan
yang melayarkan harapan
atau mungkin segala kesia siaan
Berdua, tentu saja
denganmu semata
Lalu angin itu, yang angkuh
yang seringkali menggagalkanku melempar sauh
tapi ketahuilah, kekasih
pada setiap hembusannya kita akan tau
betapa berharganya waktu
dan betapa sesaknya menghirup rindu
sebelum akhirnya kita membuang jarak
dan bersama sama membuat jarak
Dan batu karang yang tabah itu
ia selalu lupa kapan kesedihan akan di mulai
meski tlah jutaan kali ia saksikan
peristiwa pertemuan dan perpisahan
tetapi ia tau betul bahwa setia adalah antara dua
tinggal dan ditinggalkan
dan ia berada di keduanya
Kudengar debur ombak serupa debar di dada kita
bergemuruh serupa suara kesedihan ikan ikan
yang kehilangan udara dipermukaan
Kekasih....aku telah kalah beberapa kali
bahkan ditubuhku tlah penuh dengan duri
tetapi cintaku selalu tahu
kepada siapa ia harus mengadu
kemari....ikutlah berlayar bersamaku
sebelum angin kehilangan deru
sebelum maut mengalahkanku ...
(satu lagi punya Shep D'Dharmadi)
tentang pesisir,tentang debur ombak, karang serta pasir ..
Kau tau , di detik detik yang rawan seperti ini
tak ada lagi yang lebih aku sukai
selain melihat kerlip lampu lampu perahu dikejauhan
yang melayarkan harapan
atau mungkin segala kesia siaan
Berdua, tentu saja
denganmu semata
Lalu angin itu, yang angkuh
yang seringkali menggagalkanku melempar sauh
tapi ketahuilah, kekasih
pada setiap hembusannya kita akan tau
betapa berharganya waktu
dan betapa sesaknya menghirup rindu
sebelum akhirnya kita membuang jarak
dan bersama sama membuat jarak
Dan batu karang yang tabah itu
ia selalu lupa kapan kesedihan akan di mulai
meski tlah jutaan kali ia saksikan
peristiwa pertemuan dan perpisahan
tetapi ia tau betul bahwa setia adalah antara dua
tinggal dan ditinggalkan
dan ia berada di keduanya
Kudengar debur ombak serupa debar di dada kita
bergemuruh serupa suara kesedihan ikan ikan
yang kehilangan udara dipermukaan
Kekasih....aku telah kalah beberapa kali
bahkan ditubuhku tlah penuh dengan duri
tetapi cintaku selalu tahu
kepada siapa ia harus mengadu
kemari....ikutlah berlayar bersamaku
sebelum angin kehilangan deru
sebelum maut mengalahkanku ...
(satu lagi punya Shep D'Dharmadi)
Langganan:
Postingan (Atom)