Kak,
Aku enggan melihat dunia jika hanya sendiri tanpamu
tapi kau buta, sengaja membutakan matamu untukku
Kau enggan ketika ku berkata kau berpaling,
nyatanya memang begitu kak,
aku menyaksikan karena aku tidak buta.
kau bilang jengah...
tapi aku membatu dan memilih menyusur senyum yang sedang kau tenun.
sementara, seseorang disana menunggumu..
membuat ukiran disudut bibirnya,
agar kau kembal dan lelah berpaling
Kak,
aku memilih pergi melihat dunia sendiri
meski dikepung ketakutan
meski ditelanjangi matahari
dan diporakporandakan badai
aku takut kak, tapi aku teguh dan memilih pergi. Tanpamu.
pulanglah kak,
ukiran itu disebut senyum
lebih manis dari sebongkah gula batu...
lebih berkilau dari sebutir mutiara.
karena itu milikmu yang mutlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar