Selasa, 06 Mei 2014

acel mau curcol :)

Arti sebuah Dapur

Namaku Acel, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang suka memasak dan pernah bercita-cita menjadi juru masak. Tapi itu hanyalah cita-cita seorang bocah ingusan yang sering diajak-ajak sang nenek ngerjain proyek katering. Mikirnya,jadi juru masak itu enak, bisa makan sepuasnya, pulangnya bawa masakan banyak dan sebuah amplop berisi lembaran rupiah, uuuggghhh ... untuk seorang anak,  itu adalah sesuatu yang istimewa, sehingga akhirnya cita-cita itu berubah menjadi satu keinginan, keinginan yang besar untuk bisa memasak.

Semula, hanya ngintilin nenek sekedar ikut karena dirumah tidak ada teman, hingga akhirnya sekarang sudah dipercaya memegang beberapa menu masakan dan beberapa kudapan.
Di percaya menjadi asisten nenek, tinggal selangkah lagi untuk menjadi seorang juru masak yang dicita-citakan.

Tapi sayang, saat ini banyak sekali perusahaan katering yang lebih wow, itu sebabnya jarang sekali ada panggilan masak lagi. Masalahnya, memasak selalu menjadi hal yang dinantikan dan dirindukan.  Aku bisa bebas beraksplorasi, berekspresi dan menjadi diri sendiri.  Jauh lebih percaya diri ketika berada di dapur dan memasak.

Bicara soal memasak, pasti tak lepas dari sebuah dapur. Ya, tanpa dapur, kita tidak akan bisa memasak. Pernah suatu ketika ketika virus galau melandaku aku menulis sebuah status di akun jejaring sosialku, tentang keinginan terbesarku memiliki sebuah dapur. Aku ingin membuat kornet lidah sapi kesukaan suamiku di dapur itu. Aku ingin membuat gudeg jogja di dapur itu. Aku ingin membuat brownis kukus dengan taburan almond di dapur itu. Tapi sayang pada saat itu semua tak bisa aku lakukan. Loh, kenapa? Kemana dapurnya?

Bukaaaan, rumah yang ku tempati bukan tidak memiliki sebuah dapur, tapi ya namanya hidup numpang, susah berekspresi. Susah melakukan hal-hal yang menyenangkan di dapur. Hingga akhirnya aku kembali menulis sebuah status,"aku ingin sebuah dapur,dapurku sendiri."

Pernah juga suatu ketika, aku diundang menghadiri syukuran rumah baru tetangga di komplek tempat ku tinggal. Yang namanya syukuran rumah baru gitu, pastinya kita, apalagi ibu-ibu pada kepo kepengen liat isi dari rumahnya, kamarnya ada berapa? Bagaimana kamar mandinya dan tentunya dapur. Sudah, pulang dari sana hanya bisa melamun, membayangkan betapa beruntungnya memiliki sebuah dapur, bukan dapur mewah dengan kitchen set yang serba mahal, tapi sebuah dapur mungil, bersih, nyaman berwarna abu-abu. Melihatnya aku membayangkan memasak pindang tulang iga khas sumatera selatan, atau hanya sekedar membuat pie apel untuk teman nonton tv. Virus-virus galau mulai menyerbuku lagi, semakin galau macam anak abege yang tengah dimabuk cinta. Tapi ya, aku memang sedang dimabuk cinta, kepada sebuah dapur, dapur impianku.

Hingga mungkin my lovely hubby, merasa kasihan dengan keadaan istrinya yang tengah merindukan sebuah dapur, dan disinilah aku sekarang. Lagi ngetik sambil masak didapur, dapurku sendiri, masakan pertama didapur ini hanya ayam goreng dan tahu goreng, tapi ckckck rasanya jauh lebih nikmat dari nasi padang karena dimasak dengan cinta didapur yang penuh cinta.

Sampai saat ini, dapur adalah tempat favoritku, tempat terbaikku, tempat aku mencurahkan segala perasaan, rasaku ada dalam masakan, hihi.

Aku menemukan cinta di dapurku.
Aku menemukan gairah yang terpendam didapurku.
Aku akan terus berkarya dan memasak didapurku.
Nanti kapan-kapan aku share resep masakan terbaikku disini deh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar