Kita bercerita yuk?
Atau sekedar napak tilas, mengenang sejengkal demi sejengkal langkah kita.
Ada satu pohon besar dikota garut, tepatnya di jalan(aku lupa nama jalannya) di depannya ada tukang es goyobod, ingat? Ya, disitulah untuk kesekian kalinya kau melamark, untuk kesekian kali nya karena beberapa bulan sebelumnya kau telah menyematkan cincin pertunangan di jari manisku.
Aku tidak pernah bimbang, tapi aku bingung, sebuah kontrak kerja yang telah ku tandatangani berisi "tidak boleh menikah sebelum masa kerja 2 tahun"
kita tak pernah kehabisan akal, kau dan aku memutuskan menikah diam-diam, hanya keluarga, teman dekat dan kerabat yang tahu. Enam tahun yang lalu tepatnya 20 mei 2008. Aku bahagia, meski lelah karena hanya sehari waktu yang kupunya.
Tanggal 19 masih kerja, tanggal 20 menikah di jadwal off dan tanggal 21 pagi kerja kembali.
Merasa paling bahagia sekaligus merasa paling tidak bahagia. beginikah rasanya menikah diam-diam? Gimana dengan yang kawin lari ya? :D
Dua bulan setelah menikah, aku sakit, ingat? Betapa panasnya suhu tubuhku, betapa bertambah kurusnya badanku, betapa lemahnya daya tahan tubuhku, hingga akhirnya aku benar-benar ambruk dan tak sanggup melanjutkan bekerja. Padahal saat itu tanpa kita ketahui telah tertanam buah cinta kita di rahimku.
Akhirnya dua bulan kemudian kita tahu tentang kabar kehamilan ini, keadaanku semakin bertambah parah, menjelang magrib menggigil hebat, badan panas tapi rasanya dingin.
Rumah sakit demi rumah sakit didatangi, dokter demi dokter dikunjungi. Pil demi pil kapsul demi kapsul aku telan tanpa tahu akan berakibat fatal untuk bayi yang sedang aku kandung. Penderitaan belum berakhir, sebuah bisul besar tumbuh di belakang telinga kiri dan batuk yang tak henti-hentinya menyerang siang dan malamku.
Menjelang akhir tahun 2008 kesehatanku sedikit membaik, seiring bertambah besarnya perutku, mungkin morning sicknesnya berakhir pikirku. Tapi batuknya tak pernah berakhir, bisulnya tak pernah kempes, sudah enggan rasanya menelan pil-pil itu.
Aku lupa, entah siapa yang memberi informasi tentang pengobatan tradisional di kota Tasikmalaya, namanya Asep endog. Endog berarti telor, ya, cara mengobatinya memakai media telur. Telapak kaki di urut dengan telur. Sakitnya luar biasa, tapi rasa gatal di tenggorokan seolah sirna, mungkin hanya sugesti saja.
Perjalanan Garut-Tasik, Tasik-Garut ditempuh dengan sepeda motor, dengan medan jalan yang berliku-liku dan bodohnya, tak pernah berfikir panjang tentang keadaan simungil diperutku. Aku egois karena mementingkan diri sendiri, ibu macam apa aku ini.
Tanggal 31 Desember, malam tahun baru, kau dan aku menikmati indahnya kembang api dari balkon kamar kita. Aku yang mulai beser naik turun tangga hanya untuk membuang 'sesuatu' yang memenuhi kantung kemihku. Lalu kembali lagi keatas untuk melanjutkan melihat pesta kembang api dari balkon kamar.
Keesokan harinya, perut kiri bagian bawah mulai terasa seperti dicubit, sakiiiiitttt sekali, gerakan simungil pun semakin aktif. Lalu esoknya lagi rasa sakit mulai menyebar hingga perut kanan bagian bawah dan atas saran bidan aku mulai bedrest.
Keadaan tak pernah bertambah baik, batuk yang sempat ngumpet beberapa hari kini datang lagi, simungil makin agresif dan yang paling menyedihkan adalah keluarnya darah serta lendir bening dari jalan lahir. Sakit yang seperti dicubit pun kini berubah menjadi mulas, seperti hendak "maaf" buang air besar. Aku tau itu pertanda buruk, tiga hari tiga malam menahan sakit yang semakin intens, mulanya 10 menit sekali, hingga sedetik sekali. Pada saat itu kau tetap harus bekerja, sempat kesal dan marah pada atasan berkepala botak yang menuntutmu untuk bekerja sementara istrimu menahan sakit.
Rabu, 7 januari 2009, pagi-pagi mulasnya hilang, ingat game capsule? Itulah yang menemaniku di pembaringan sementara kau bekerja dan mendatangi Rumah bersalin daftar untuk periksa sore. Menjelang tengah hari simulas datang lagi, ditemani dengan si batuk dan denyutan si bisul. Menderita sekali aku saat itu, simungil tetap bergerak aktif dan simulas mulai tak ada jeda nya, aku tetap menguatkan diri dengan capsule, game warna warni yang memaksa aku untuk tetap sadar ditengah rasa sakit. Hingga akhirnya,tanganku tak mampu menopang sebuah ponsel sekalipun, aku terkapar.
Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku menelponmu. Pengen nangis ketika kau bilang dokternya belum ada, sedangkan rasa sakit sudah tak kuasa aku tahan lagi. Akhirnya, dengan modal nekad, aku dan mbu berangkat ke RB, menyusulmu. Sungguh saat itu aku hanya ingin si mulas segera reda. Berharap si mulas segera pergi jauh dan berharap simungil baik-baik saja didalam. Dia tetap bergerak aktif selama perjalanan.
Sesampainya di RB, kaget bukan kepalang karena dapet nomor antrian 26 sedangkan saat itu aku sekarat, simungil tetap bergerak aktif dan simulas sama sekali tidak memberi toleransi. Baru terpikir sekarang kenapa tidak langsung saja pergi ke UGD.
Ingat si bidan centil? Ya, yang matanya pakai softlens berwarna biru dan gigi yang dipager biru juga, udah judes, nyebelin pula. Untung saat itu datang bidan yang cantik,baik dan sederhana, dia langsung membawaku ke ruang tindakan dan dengan cekatan dia memasang sarung tangan karet lalu melakukan VT kepadaku. Oemjiiiiii bagian ini bagian yg paling aku benci.
Vt selesai, dengan menyesal bidan cantik mengatakan bahwa sudah terjadi pembukaan dan si mungil akan segera keluar. Aku menangis, si mungil harus keluar di usia kehamilan 24 minggu! Sangat tipis harapan untuk dia bertahan hidup.
Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi, bukan berarti aku tak sadarkan diri, tapi rasa sakit mendominasi pikiranku saat itu, sakit secara fisik aku masih bisa menahan,dan sudah terbiasa dengan hal itu selama berminggu-minggu. Rasa sakit yang sedang ku rasakan adalah sakit di bagian yang sulit untuk dijelaskan, jauh di dalam, dan saat ini pun sakit itu kadang-kadang singgah.
Aku berbaring di sebuah ruangan, bau antiseptik menyeruak melalui rongga hidungku, ruangannya putih, dan aku dikelilingi gadis-gadis berbaju putih, bukan malaikat bukan pula mahluk astral, mereka calon-calon bidan yang sedang kerja praktek di klinik itu. Hanya satu bidan yang kelihatannya sudah senior. Mukanya masam aku ingin mencakarnya ditengah rasa sakit yang mulai menggila :D.
Dahulu saat petang, turun hujan dan petir menyambar,
aku menangis menahan sakit,
aku terluka,tersayat
kau hadir namun aku kehilangan
darahku adalah darahmu
lukaku adalah lukamu
pedihku adalah pedihmu.
kau hadir namun sekejap
harapan yang telah membumbung tinggi
kini hanya berupa serpihan
lalu kau pergi dengan tenang
dan ku bayar dengan butiran air mata.
Kejadiannya begitu cepat, dari sejak aku dibaringkan di ruang tindakan, disuruh berbaring miring, lalu mulai menggigil kedinginan. Rasa dinginnya mengalahkan rasa mulas, dan ternyata sebagian perempuan yang hendak melahirkan memang merasa kedinginan saat proses pembukaan berlangsung.
Dokter pun tiba, diiringi oleh hujan, petir, dan suasana yang mencekam. Ranjang klinik yg terbuat dari besi berderit-derit karena aku yang menggigil. Saking sakitnya, aku berfikir, ini kalo dibawa berlari enak kayaknya,sakitnya ilang kayaknya.
Setelah dilakukan beberapa tindakan, akhirnya ketuban pecah dan dingin pun hilang nyaman rasanya, dan perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. Jadi ingat mama, beginikah rasanya ketika mama mengeluarkanku dari rahimnya? Sangat sakit. Namun sakitku berbeda, ketika sakit yang dirasa sirna maka kesakitan lain akan segera singgah, dan itu kau pun tahu mengapa.
Tepat jam 17.30 sesosok pria mungil lahir dengan sebuah senyuman, dia begitu tampan, meski aku hanya bisa tahu dari ceritamu, dari cerita orang-orang, karena yang kulihat hanyalah telapak kakinya yang begitu merah, entah kenapa kalian semua tak mengizinkan aku melihat malaikat kecil itu. Hingga akhirnya dia pergi, dan takkan mungkin kembali kepadaku.
Huaaa ... berasa udah kepanjangan, nanti-nanti aku lanjutin ceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar