Jika pada akhirnya puisi ini sampai padamu
ingin kutegaskan bahwa kata-kata menempuh perjalanan jauh
tahun tahun debu menghapus semua rambu
susah nian membedakan rumpun bambu dan pinggul babu
segalanya benar benar debu
apa yang selama ini kusebut arah
itu adalah jarak
Tapi pada akhirnya,
untaian kata ini memang harus ada padamu..
dibungkus rapi dengan perisai Rindu,
yang entah,kau bisa membacanya atau hanya menyimpannya
lautan debu itu hanyalah cara,
cara jarak menyampaikan jutaan pesan,
pesan tentang sesuatu,dan sesuatu itu selalu disebut Rindu.
Percayalah, kata kata itu
telah berjalan jauh sebelum sampai padamu
dinegeriku seluruh jalan tersumbat suara-suara
seperti tagihan-tagihan,
yang kerap membuatku tak bisa kemana mana,
tapi ini lebih bising dari tagihan
bahkan dari desing,
hingga kupikir ini adalah rahim desing
entah apa yang akan terlahir
Jarak melahirkan sekutu,
bersiaplah kau berakhir pilu.
kecuali jika kau menjadi tahu,
bahwa kata-kata ini telah lelah mengadu,
dan kepada masa lalu kau hanya bisa bertumpu..
tak ada cumbu dan rayu
yang tersisa hanya wajah-wajah yang layu,
sendu.
kini puisi ini sudah sampai padamu...
berisi catatan lirih,
tentang dia yang tak bisa berjalan lurus..
Air matanya keperakan tertimpa cahaya bulan,
tapi luka nya terpendam jauh dilubuk terdalam.
Langkahnya terseok memutar,
pesona nya memudar..
Dan yang sampai pada mu,
biarlah ia tidur sejenak,
terbaring di sisimu
peluklah lembut,biarlah lelap
ia sedang menyusun kekuatan
untuk menumpahkan gairah
ia akan memberondongmu
dengan tembakan-tembakan kegilaan sebuah negeri
Biarlah ia tidur sejenak, tataplah aku disana.....
Dan kata kata yang sampai padamu itu,
jauh sebelum menhadi peluru,
ia adalah bunga kuncup dijantungku,
biarlah ia tidur sejenak , tatap la aku sejenak ....
(ditulis oleh shep D'Dharmadi dan Argeline she)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar