Selasa, 26 Agustus 2014

short story

Cemburu Pada Hantu

Sekarang seperti itu,mas heru lebih suka mengurung diri dikamarnya,bukan,bukan kamar kita berdua,tapi hanya kamarnya sendiri,dengan dia..
setiap hari,mas heru menyiapkan kain sutra berwarna hitam di sebuah dipan yang ia jadikan alas tidur,aku tidak melihatnya langsung tetapi mengintip dari celah bilik yang lobangnya agak besar.Keesokan harinya mataku menjadi sakit,merah dan bintitan.
Mas heru bilang jangan suka mengintip,itulah akibatnya.

Dulu,mas heru adalah suami yang romantis,dia penyayang,perhatian dan pengertian.Tak boleh melihat istrinya mengaduh,tak bisa melihat istrinya banjir keringat,tapi saat itu kami sangat kekurangan.makan pun sehari hanya satu kali,itupun satu bungkus nasi rames kami makan berdua.Aku yang lebih banyak makan saat itu,karena harus menyusui si kecil Alif yang baru berusia 8 bulan.
Setiap hari,mas heru mendorong gerobaknya,aku di belakangnya mengikuti dengan tertatih...tanpa alas kaki kedua tanganku menenteng 2 kantong keresek yang berisi abu gosok,sedangkan sikecil alif menempel di punggung mas Heru dan terlelap,badannya di sangga sinjang batik yang kumal,dan rapuh robek disana sini.
"Bu...bade lebuu..."mulutku tak pernah bosan meneriakkan kata-kata itu,kata yang seakan menjadi mantra agar ASI ku keluar memancar seperti tanah yang di bor dengan kedalaman 20 meter jauhnya.
Dan tak berapa lama,sekantong demi sekantong Abu gosok ini berpindah tangan..banyak orang yang masih setia kepada si buruk rupa yang mampu membuat wajan tidak buruk lupa lagi..
tapi tak sedikit orang yang mencibir,mereka lebih memilih cairan pembersih yang lebih modern,yang produknya banyak berseliweran di iklan-iklan.

Duhh...betisku mulai pegal,si alif mulai rewel,dan mas heru mulai putus asa..hari ini kami hanya dapat uang 14 ribu rupiah,dipotong uang keresek,lalu sisa potongan uang keresek itu pun harus dibagi dua dengan pemilik los(tempat membuat batu bata),penghasilan kami hari ini hanya 6 ribu rupiah,

sebungkus nasi rames dengan harga 4 ribu kami makan berdua,si alif kami belikan pisang ambon yang dikerok terlebih dahulu.
pedih memang sisa uang hanya seribu rupiah,perjalanan menuju gubuk kami masih sangat jauh.
aku hampir putus asa.kelelahan.

Tapi mas heru tau,kesahku saat itu,dia mengalah,menumpuk sisa abu gosok,menyediakan ruang untukku dan alif duduk,sedangkan dia mendorong tak kenal lelah.Sebagai gantinya,dirumah aku akan merendam kakinya dengan air hangat yang di bubuhi garam,menyeka gurat-gurat lelah yang terpahat di telapak kaki kokohnya.

suatu hari ketika baru saja mendapat uang 2 ribu rupiah,hujan turun tanpa ampun,petirnya membuat alif menjerit takut,dan kami panik.
buru-buru mencari tempat teduh untuk menyelamatkan abu gosok kami.celaka jika abu-abu itu basah,selain tidak makan kami mungkin akan kena ocehan-ocehan pemilik los yang mulutnya berbau busuk itu.

Aku menggigil,gigiku gemerutuk dasterku yang tipis menempel di badan,Mas heru tidak tahan melihatku lantas dia memelukku buah hati kami berada diantara dinginnya cuaca dan hangatnya cinta kasih orang tuanya.

"ekhemm..."Deheman seorang lelaki mengagetkan kami,sontak aku dan suamiku menoleh kearahnya,kakek itu tersenyum dan meminta kami masuk berteduh di pondoknya.

Alif,terlihat ketakutan,waktu itu usianya sudah satu tahun,tapi dia kurus tidak seperti anak-anak seusianya dan belum dapat berjalan.

"dek alif jangan takut.."ucap kakek itu sambil tersenyum penuh kharisma..
"bapak tahu dari mana anak saya bernama Alif?" tanya suamiku..
"dari Nini"jawabnya mantap..
aku dan mas heru saling pandang,kakek menceritakan bahwa nini adalah istrinya dari bangsa jin.Dia yang menyuruh Kakek membawa kami masuk,Nini suka sama Alif,dia kepingin punya putra lelaki selucu Alif.
Saya yang ketakutan mendekap erat alif.Tangan kekar mas heru melindungi kami dengan begitu protektif.
Kakek menyuruh kami tenang,mereka tidak hendak berbuat jahat,mereka hanya mau pinjam alif barang sebentar saja..hanya satu malam.
Entah dari mana asalnya,tiba-tiba ditangan kakek sudah ada sepotong kue apem hangat,Alif yang memang kelaparan berontak dari pangkuanku,hendak menerima pemberian kakek.Aku takut,tapi Alif belum makan,dan ia kedinginan.Akhirnya naluriku sebagai ibu,lebih membiarkan Alif menerima kue itu.Alif makan dengan lahap.
Sihir apa aku tak tahu,malam itu alif ditinggalkan dirumah sang kakek,permintaan si Nini kami kabulkan.
keesokan harinya,kami bergegas..tak ada abu gosok yang kami jual hari itu,aku ingin segera bertemu alif.
ketika sampai,alif menyambut kami,dia sudah bisa berjalan.Dan aku menangis,bukan karena dia sudah bisa berjalan,tapi karena dia kembali ke pangkuan kami.
Aku enggan masuk kedalam,dengan dalih menemani Alif main aku lebih memilih duduk di luar,melihat alif yang sedang bermain yang entah dengan siapa,aku tak melihatnya.
Mas heru keluar dari pondok,diikuti kakek yang sumringah.
Kami akhirnya pulang.
sepanjang jalan,mas heru lebih banyak diam,dia hanya menggelengkan kepala ketika ku tanya mengapa.
hingga akhirnya,dirumah mas Heru menceritakan bahwa sang kakek meminangnya,dia ingin menikahkan mas heru dengan Nyai,anak si kakek dengan si Nini yang bangsa jin itu,dan nyai adalah bangsa jin sama seperti ibunya.
Kontan aku tertawa..aku tidak cemburu,malah menganggap ini lelucon.
tapi mas heru meyakinkanku,dia mengeluarkan sebuah kotak berisi emas,perhiasan emas.
mataku terbelalak,jangankan perhiasan emas segitu banyak,sepasang anting pun tidak aku punya.
Mas heru akan menikahi Nyai malam ini.Tepat di malam jumat kliwon.Mas heru ingin aku dan alif berubah hidupnya.bisa tinggal dirumah yang memang layak ditinggali.bisa makan setidaknya kami makan tidak sebungkus berdua lagi.Atau alif tidak seperti burung yang setiap hari memakan pisang ambon atau pepaya.
setelah menikah,Nyai yang akan menafkahi kami.memberi kami rumah yang layak,makanan dan uang.
Inilah Awal bencana bagiku..
mas Heru yang tadinya romantis kini dingin..
mas Heru hanya memberiku nafkah lahir saja,Rumah motor,bahkan mobil kini aku punyai..
alif kini tumbuh sehat,dan aku seperti toko emas berjalan..
Mas heru lebih senang bersenggama dengan Nyai.
dia lebih betah dikamar nyai..
Pernah suatu ketika,mas heru mengumpat seusai bercinta denganku,dia bilang punyaku tidak selegit punya nyai..dan aku sedih.
aku ingin mas yg dulu,yang rela berjalan puluhan kilometer dan mendorong gerobak yang didalamnya ada aku dan alif,
aku merindukan pelukan mas saat dingin,saat sakit,saat kami berdua di timpa kesusahan.
"Nyai,kembalikan mas ku..Aku merindukannya.Maka akan ku kembalikan mas mu kepadamu,aku tidak perlu perhiasan emas dan uang banyak,aku hanya ingin mas heru,dan hangatnya cinta kami meski kami hanya mendorong gerobak berisi abu gosok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar