Jumat, 08 Agustus 2014

Catatan Bersampul Abu

pagi ini mataku menangkap sesuatu..
kentara jelas dari ujung hingga tepi,
betapa engkau singkap tirai awan putih dariku,
dan kau kucurkan segumpal awan keruh tepat dihadapanku.
sebabnya apa aku tak ingin tahu,
karena sungguh,rasa ingin tahu hanya akan membunuhku perlahan..
aku belum ingin mati,
sebelum melihat sisi lain dari wujudmu..
wujud yang sempat tersungkur ke lembah kenistaan,
dan menyambangi tepian bara
tanpa sedikit pengampunan.

pada akhirnya kau tetap bertandang,
membawa daftar permintaan yang telah ku ajukan,
dalam sebuah buku yang berisi catatan,
kau ungkapkan segenap perasaan.
berisi kemarahan,dan sejumput kerinduan.
kau adalah lelaki yang selalu ku caci,
tetapi aku adalah wanita yang selalu kau kasihi,
tanpa sedikit benci,
hanya aku katamu,
dan kata-kata telah memaksaku,
menelan rasa tentang kita.

pada akhirnya catatan itu hanya pedoman,
sebuah aturan yang memang hanya aturan..
aku tak mau diatur oleh catatan,
yang tersampul berwarna abu.
jangan lagi kau bubuhi satu kata pun,
kecuali tintanya adalah darah lukamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar